« Older Home
Loading Newer »

Rusli Zainal Sang Visioner. Yakin?

Manusia bisa lupa, tapi Google tidak pernah lupa. Semua yang pernah ditulis tentang seseorang atau suatu hal akan tersimpan rapi dalam jaring-jaring mesin pencari paling mumpuni itu. Jumlahnya, ribuan, jutaan, tak terbatas. Orang-orang berlomba untuk muncul di halaman pertama pencarian, antara lain dengan Search Engine Optimization atau SEO.

Saya baru tahu bahwa ada sebuah lomba SEO dengan tema, Rusli Zainal Sang Visioner. Saya ragu, para peserta lomba mengerti apakah Rusli Zainal visioner atau tidak. Pokoknya, pemenang lomba adalah laman yang akan berada di urutan puncak daftar pencarian Google saat kata kunci itu diketikkan, lebih lanjut bisa dibaca di laman http://seo.bertuah.org.

Benarkah Rusli Zainal seorang visioner? Mudah saja menemukan jawabannya di Google. Ketikkan namanya dan akan muncul 158 ribu hasil telusur Google.

Klik gambar untuk memperbesar, gambar diambil 22 Juni. Dari 158 ribu entry itu, laman terdepan telah dipenuhi oleh puji dan puja para peserta lomba terhadap pak Rusli tentang ke-Visionerannya. Tapi coba gali lebih dalam sisi lainnya.

Apakah puja-puji itu layak?

Hingga saat ini, pengusutan bekas Gubernur Riau Rusli Zainal dalam kasus dugaan korupsi penerbitan izin kehutanan masih belum tuntas. Saat terakhir kali saya menanyakan kelanjutan kasus ini kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), mereka menyatakan masih terus menelusuri dugaan keterlibatan Rusli dalam kasus yang merugikan negara triliunan rupiah ini.

Kalangan aktivis lingkungan Riau, seperti Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), Jaringan Pekerja Penyelamatan Hutan Riau dan Greenpeace juga telah mendesak agar kasus ini diusut tuntas. Rusli diduga mengeluarkan surat izin penebangan hutan yang tidak sesuai dengan ketentuan.

Akibat kasus ini, Bupati Kabupaten Pelalawan Riau, Azmun Jaafar telah dihukum 11 tahun penjara oleh Pengadilan Tingkat pertama. Saya mengikuti sidang vonis itu dan mendengar pernyataan Azmun yang meminta agar Rusli ikut bertanggung jawab. Menurut Azmun, Rusli yang ikut mengesahkan Rencana Kerja Tahunan harus turut dinyatakan bersalah.

Kebenarannya, memang masih harus dibuktikan secara hukum, itu urusan KPK. Tapi kita sebagai blogger, setelah mengetahui dua sisi tersebut, bisa memilih. Mengutip buku Mas Ndoro, blogger harus tetap bersandar pada hati. Monggo. Kalian pilih mana?

*soal Google dan SEO, saya sih berharap tulisan ini bisa menempati halaman pertama Google juga hihihi*

ps: gambar dari webnya greenpeace saat aksi di depan KPK tentang kasus ini.

Saat Langit dan Laut Begitu Biru

suatu siang di pantai Ujung Genteng.
just love love love love this picture!

thx tupic for the shot!

Penyu Pantai Pangumbahan, Ujung Genteng


“Mau telur penyu neng?” tanya Bang Ujang, tukang ojek yang membawa saya menuju pusat konservasi penyu di pantai Pangumbahan, Ujung Genteng. Menurutnya selain lezat telur penyu memiliki khasiat serupa obat. Menyembuhkan hipertensi, pegal linu, penambah kejantanan dan lai-lain.

Bang Ujang menawarkan harga Rp 4ribu untuk setiap butir telur penyu. Bentuknya bulat seukuran bola golf dan berwarna putih berkilauan saat keluar dari perut penyu hijau induknya.

Telur itu didapatkannya dari para penjaga pusat konservasi. “Sudah biasa neng, sebagian besar telur memang dijual oleh para petugas,” ujarnya sambil memacu motor melintasi lahan offroad menuju tempat konservasi penyu. Namun, menurut si abang, para pencari telur tidak menjualnya secara langsung di pusat konservasi. Siapa butuh, bisa pesan.

Jenis penyu yang banyak terdapat di pantai Pangumbahan adalah jenis penyu hijau atau Chelonia mydas. Penyu hijau dewasa bisa mencapai panjang 1,5 meter dengan berat sampai 300 kg! Sekali bertelur penyu betina bisa menghasilkan 100-200 butir telur.

Telur penyu di alam liar rentan dimangsa predator. Manusia lalu membentuk pusat konservasi untuk -katanya- melindungi mahkluk yang telah diberi status terancam punah sejak 2004 dan tinggal tersisa 6 spesies itu.

Kenyataannya manusia malah menjadi predator baru bagi para penyu. Bahkan hanya beberapa detik setelah telur itu dilahirkan, dia sudah berpindah ke tangan distributor. “Buat tambah-tambah penghasilan,” kata bang Ujang.

Manusia, memang ancaman terbesar bagi isi bumi yang lain.

Penyu dewasa biasanya kembali ke pantai tempatnya menetas saat akan bertelur. Namun, penyu juga hanya bersedia bertelur di tempat yang gelap tanpa cahaya dan tanpa suara. Saya membayangkan, bisakah tukik pantai Pangumbahan kembali ke tempat dia menetas saat akan bertelur 50 tahun lagi?

Bantulah dia. Dukunglah pembangunan resort-mewah-tepi-pantai. Saat bermain ke ujung genteng, jangan lupa membeli telur penyu. Kamu bisa makan telur penyu rebus sambil membuang baterai bekas ke tepian pantai. Nikmat ya?

PS: Perjalanan ke pantai cantik Ujung Genteng sudah ditulis oleh kawan-kawan seperjalanan. Sila buka tautan berikut:
Jeng-jeng Ujung Genteng dan Ujung Genteng

Dua Vampir Beda Dunia

Dua film, satu tema. Kisah cinta antara vampir dan manusia. Vampir yang muncul tanpa taring dan jubah hitam. Si manusia menerima vampir apa adanya, dan sang vampir tak ingin mengajak pasangannya jadi vampir juga. Mereka sama-sama tinggal di sebuah kota kecil dingin suram tanpa matahari. Dua vampir ini juga bisa melompat-lompat kian kemari dengan bebas lepas. Salah satu kemampuan yang akan mereka gunakan untuk melindungi orang-orang terkasih.

Tapi dua film yang kunikmati minggu ini, mengemas kisah itu menjadi sangat jauh berbeda. Seperti beda antara jamu yang murah pahit tapi menyembuhkan dan softdrink yang mahal manis tapi merusak kesehatan. Twilight dan Let The Right One In.

Twilight diliputi cahaya terang. Sang vampir berwajah superganteng dan kulitnya berkilauan diterpa cahaya matahari. Vampir yang selalu necis itu hidup di rumah mewah dengan pemandangan luar biasa ke arah hutan -penyuplai makanan. Edward tinggal bersama keluarga Cullens yang mendukung dan mencintainya. Mereka berhasil menahan nafsu membunuh dan bertahan hidup hanya dengan memangsa hewan. Edward tak butuh tidur maka dia pergi ke sekolah -bahkan mengkoleksi toga wisudanya- bermain piano dan baseball saat senggang. Sepertinya bagi mereka keabadian adalah berkah. Hidup terasa mudah.

Let Your Right One In adalah kelam. Sang vampir terjebak dalam tubuh gadis kecil berusia 12 tahun bernama Eli. Eli selalu nampak kumal, kurus dan berjalan dengan canggung. Alih-alih pergi ke sekolah, Eli tinggal sendirian dengan tubuh bergetar menahan lapar, haus darah. Dia tak punya siapa-siapa ketika pria tua yang tinggal bersamanya tertangkap polisi. Saat lapar tak tertahankan, Eli meloncat ke pundak korbannya untuk mempertahankan hidup. Waktu siangnya dihabiskan dengan tidur dalam bathtub, karena jika terkena cahaya matahari niscaya tubuhnya akan terbakar habis.

Tapi Twilight mampu meraup 200 juta dolar sementara Let The Right One In hanya mendapat 200 ribu saja. Padahal secara sinematografi, Twilight bukan apa-apa dibanding Let Your Right One In. Rating rottentomatoes untuk Twilight adalah 34 % dan 97% untuk Let The Right One In. Jauh!

Tapi entah bagaimana, ide vampir romantis vegetarian yang berkencan dengan manusia dalam Twilight berhasil membuatku keluar dari 21 Setiabudi dengan berbunga-bunga. Sedangkan Let Your Right One In benar-benar memukau dan berhasil membuatku merasa ngeri. Grand Indonesia yang sudah kosong saat film selesai waktu tengah malam makin menambah perasaan mencelos dalam hati.

Pada akhirnya, cintalah, yang menaklukkan dunia haha

*diposting di Wetiga dengan membajak leptop antonseptian*

Cerita 12 Tahun Lalu

Sekitar tahun 1960-1970 an, Malaysia banyak sekali mengimpor guru-guru dari Indonesia. Mereka menganggap mutu pendidikannya jauh dibawah Indonesia sehingga perlu belajar banyak dari kita.

Salah seorang guru saya pernah berangkat mengajar para encik-encik Malaysia itu. Namanya Suryadi, sekarang almarhum Suryadi. Kami biasa memanggilnya Pak Sur. Ceritanya, saat disana dia ditanya mengenai besar gajinya oleh salah seorang guru Malaysia bimbingannya itu.

Saat itu Pak Sur tahu bahwa para guru Malaysia digaji jauh lebih besar dari gajinya. Agar tak malu, Pak Sur menjawab dengan melebihkan gajinya yang saat itu hanya Rp 10 ribu*. “Gaji saya seratus ribu perbulan*,” bualnya bangga.

Tanggapan para rekan sekaligus muridnya itu ternyata membuatnya terkejut. Mereka menatap Pak Sur iba. “Aduh, sedikit sekali gaji Anda pak, kami disini dibayar beberapa kali lipat lebih banyak,” ujar kawan-kawannya itu. Dan Pak Sur hanya bisa senyum-senyum sepet.

Cerita ini beliau ceritakan di depan kelas, suatu hari di tahun 1996. Waktu itu saya baru kelas satu SMP. Tahun itu juga tahun terakhir Pak Sur mengajar sebelum pensiun. Sampai pensiun, gajinya belum juga naik sebesar gaji para guru Malaysia itu.

Untuk menambah pemasukan, dia berjualan warung kejujuran di sepanjang sekolah. Dia percaya pada kami. Warung itu meja beroda yang bisa dipindahkan kesana kemari, siapapun yang akan membeli tinggal mengambil barang dan meletakkan uang. Serupa warung kejujuran yang sekarang ada di KPK atau Kejati.

Kembali soal gaji guru. Sampai sekarangpun, tahun 2008, masih banyak guru-guru serupa Bu Mus di Laskar Pelangi yang harus menghidupi diri dengan pengusahaan lain. Namun mereka tetap menjadi guru, agar kamu bisa merentangkan tangan, dan meraih dunia.

Selamat Hari Guru, para guru Indonesia!
Selamat Hari Guru, papaku tercinta!

*nilai tepatnya saya lupa, tapi kira-kira 10 kali lipat.

Berbenah Setelah Pesta

Komunitas Blogger Jogjakarta Cahandong memenangkan penghargaan Blogging for Society Awards di Pesta Blogger 2008. Menurut sang chairman -yang mengaku tidak ikut memilih karena belio juga anggota CA- Cahandong dipilih karena telah melakukan banyak kegiatan dalam setahun yang berdampak luas kepada masyarakat dengan menggunakan media blog.

Salah satunya adalah proyek nirlaba terbaru Cahandong, wajah jogja. “Semangat melakukan sesuatu untuk orang lain tanpa dibayar adalah sebuah hal yang luar biasa,” kata Ndoro pada sesi bincang-bincang bersama CA di tengah pesta.

Sebagai salah satu anggota tentu saja saya merasa bangga kepada CA. Tapi sebagai pribadi, saya justru merasa tertohok. *jlebb* Sebagai blogger, apa yang sudah saya kontribusikan kepada society? Setidaknya kepada pembaca?

Ah sepertinya saya masih harus banyak berbenah. Untuk memberi, bukannya menuntut.

terimakasih pada Pitra atas fotonya!

Cinta-cintaan

Cinta adalah bahaya yang lekas jadi pudar, kata Chairil Anwar. Mungkin
karena percintaan dibangun berdasarkan khayalan dan ilusi yang positif
tentang pasangan.

Ini lagi-lagi bukan kata saya, melainkan buku psikologi yang saya baca
waktu kuliah dulu. Pasangan alih-alih dilihat sebagai kenyataan,
justru digambarkan sesuai standar ideal yang diinginkan.

Ilusi dan khayalan, sifatnya sementara. Tentu saja. Capek sekali kalau
saya misalnya, terus menerus berkhayal. Cepat atau lambat, kenyataan
akan menampakkan diri. Persepsi bias tentang pasangan yang sempurna
itu berganti dengan realita.

Dia yang kamu pikir tidak suka sinetron, ternyata menunggu-nunggu
Cinta Fitri season 3. Dia yang nampak rapi, ternyata menyimpan gelas
berjamur di kamarnya. Kamu yang dia pikir sabar ternyata mudah kalap
saat cuaca panas. Kamu yang dia pikir rajin sholat ternyata agnostik.
Misalnya. Tidak ada manusia yang sempurna.

Jadi diri sendiri saja dan beri ruang padanya untuk menjadi dirinya.
Menurut pak psikolog yang saya lupa namanya (haha sumber yang
meragukan), pasangan yang paling disukai adalah pasangan yang
memberikan umpan balik tepat dan relevan dengan konsep diri. Agar tak
lekas pudar.

*menjawab sebuah surel dari kawan lama yang gelisah*

Posted by email from cyapila’s posterous

Icelandic

you stir up
emotion
in a blender
everything in dissaray
but it was you who was always
there for me
it was you who never judged
my true friend

i parted, you parted

Translation of Sigur Ros song, Ara Batur. A great song dat bring
back the memory of you. My true friends.

Posted by email from cyapila’s posterous

Sabda Dewan Perwakilan Kita

Hari kamis! Waktunya posting! Ternyata menjadwalkan diri posting setiap hari kamis tidak sukses. Jadi yasudahlah, saya posting sesuka hati saja. Malas mengetik panjang-panjang, berikut ini kutipan-kutipan yang saya dengar dua hari kemarin.

Waktu: 27-29 Oktober 2008
Lokasi: Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, JL Rasuna Said, Kuningan, Jakarta
Lakon: Mantan dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang dipanggil sebagai saksi dalam kasus korupsi.

Selamat membaca!

Bobby Suhardiman
Komisi IX DPR 1999-2004

Hakim: Bagaimana hasil keputusan pansus BLBI?
Bobby: Saya tidak tahu.
Hakim: Anda kan anggota pansus? Kok bisa tidak tahu?
Bobby: Saya biasanya datang rapat hanya untuk absen, setelah itu saya pergi.

Agus Condro
Komisi IX DPR 1999-2004

“Saya mendapat uang Rp 25 juta dari Yusuf Erwin Faishal, sebagai uang selamat datang, Waktu itu saya baru menjadi anggota DPR.”

Sujud Sirajuddin
Komisi IV DPR 2004-2009

“Saya dengar-dengar, gaji saya selama ini sekitar Rp 46 juta.”

Maruahal Silalahi
Komisi IV DPR 2004-2009

Maruahal: Ya, saya menerima uang Rp 35 juta
Hakim: Sudah dikembalikan?
Maruahal: Sudah semua, dua minggu yang lalu.
Hakim: Kenapa dulu tidak segera dikembalikan?
Maruahal: Uangnya sudah habis.
Jaksa: Lho tapi Anda tercatat baru mengembalikan Rp 10 juta?
Maruahal: Hehehehe.. iya.
Hakim: Jadi kapan mau mengembalikan?
Maruahal: Besok. Besok, yang mulia.

Mufid Al Busyairi
Komisi IV DPR 2004-2009

“Saya tidak menerima amplop!
Uangnya ada di map.”

-bersambung-

Kenapa Padahal Mungkin

Kawan saya yang bekerja di sebuah pabrik kata-kata bertanya-tanya. Kenapa
menulis blog lebih sulit dari menulis berita?

Sepertinya hal itu juga yang saya rasakan akhir-akhir ini. Menulis blog
terasa lebih sulit daripada menulis berita.

Padahal tulisan saya di blog hanyalah omong-omong ringan, kata-kata kosong
semacam jurnal pribadi. Tidak ada bedanya dengan menulis catatan harian pada
sebuah buku wangi bersampul merah jambu seperti saat kecil dulu.

Padahal saya bisa menulis beberapa tulisan untuk produksi pabrik setiap
harinya. Tapi untuk memaksa diri duduk didepan komputer atau menyiapkan
tangan di ponsel untuk mulai mengetik blog, rasanya sulit sekali.

Padahal setiap harinya ada saja hal-hal yang ingin saya tuliskan di blog.
Setiap hari selalu ada hal yang menarik, tentu saja.

Padahal saya kadang-kadang termenung-menung di rumah, tidak mengerjakan
apa-apa.

Padahal tulisannya ringan, padahal ada ide, padahal ada waktu, padahal ada
alat. Tapi kenapa?

Mungkinkah tidak ada kemauan? Dalam hati saya menjawab bahwa tentu saya mau
jika blog saya terus terbaharui. Justru itu adalah impian, melihat blog saya
tumbuh dan berisi tulisan tidak bermutu itu.

Mungkin kemauan itu tidak cukup kuat untuk menggerakkan jari-jari saya
berkoordinasi dengan otak. Mungkin saja. Entahlah. Lagipula tanpa sadar ini
juga merupakan sebuah tulisan kan?

Tetaplah Posting!

Posted by email from cyapila’s posterous


Pranoto Mongso

July 2009
M T W T F S S
« Jun    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

sitemeter