« Older Home
Loading Newer »

gadis pohon natal dan pemuda hujan

Pemuda itu menyukai saat langit berubah gelap lalu rintik air turun pelan dan makin deras. Bagi dia, hujan selalu membawa kesegaran yang terus berulang setiap kali sehabis hujan.

Tapi hidup adalah kesetimbangan, dan pemuda hujan yang sejuk membutuhkan hangat matahari. Dia menunggu. Perempuan matahari. “Berdua kami akan menciptakan pelangi,” kata pemuda itu suatu ketika.

Pada sebuah natal, sang pemuda bertemu dengan seorang gadis. Bersama mereka menghias pohon natal. Dengan pita, lonceng perak, buah cemara juga kotak kado kecil warna merah menyala. Mata pemuda itu berkilauan. Seperti warna tetes hujan saat tersentuh cahaya matahari.

Satu, dua, tiga natal berlalu dan pemuda itu terus berpikir, inilah perempuan matahari yang selama ini telah dia cari.

Tapi gadis itu bukan perempuan matahari. Dia adalah gadis pohon natal dengan bintang terang di pucuknya. Cahayanya hangat, tapi tak seterang matahari. “Carilah perempuan mataharimu, aku kini tidak mencintaimu lagi,” ujar gadis pohon natal.

Kalau kau pergi ke kota hujan, sempatkanlah pergi ke tempat rimbun penuh pohon itu. Mungkin pemuda itu masih disana, mencari matahari untuk menciptakan pelanginya.

_terinspirasi dari blog ini_

bye bye hukum!

pelajaran yang bisa diambil dari menjadi reporter hukum selama 15 bulan keliling-keliling Jakarta adalah: hukum tidak sama dengan keadilan. oh dan satu lagi. korupsi yang direstui penguasa, tak bisa dikalahkan. hore! selamat!

itu saja? itu sih, semua orang juga tahu. keluh.

–masih edisi ngeblog ala status FB–

membaca pikiran

Redaktur saya bilang, jalan pikiran orang bisa terlihat dari tulisannya. Akhir-akhir ini saya ndak pernah nulis blog lagi, apa itu berarti pikiran saya kosong ya? d.o.h.

Selamat hari kemerdekaan. Tetaplah merdeka menuliskan isi pikiranmu.

gadis manis, sekarang iseng sendiri

yang kuinginkan sedikit sepi, berkaca pada laut setenang cermin

Rusli Zainal Sang Visioner. Yakin?

Manusia bisa lupa, tapi Google tidak pernah lupa. Semua yang pernah ditulis tentang seseorang atau suatu hal akan tersimpan rapi dalam jaring-jaring mesin pencari paling mumpuni itu. Jumlahnya, ribuan, jutaan, tak terbatas. Orang-orang berlomba untuk muncul di halaman pertama pencarian, antara lain dengan Search Engine Optimization atau SEO.

Saya baru tahu bahwa ada sebuah lomba SEO dengan tema, Rusli Zainal Sang Visioner. Saya ragu, para peserta lomba mengerti apakah Rusli Zainal visioner atau tidak. Pokoknya, pemenang lomba adalah laman yang akan berada di urutan puncak daftar pencarian Google saat kata kunci itu diketikkan, lebih lanjut bisa dibaca di laman http://seo.bertuah.org.

Benarkah Rusli Zainal seorang visioner? Mudah saja menemukan jawabannya di Google. Ketikkan namanya dan akan muncul 158 ribu hasil telusur Google.

Klik gambar untuk memperbesar, gambar diambil 22 Juni. Dari 158 ribu entry itu, laman terdepan telah dipenuhi oleh puji dan puja para peserta lomba terhadap pak Rusli tentang ke-Visionerannya. Tapi coba gali lebih dalam sisi lainnya.

Apakah puja-puji itu layak?

Hingga saat ini, pengusutan bekas Gubernur Riau Rusli Zainal dalam kasus dugaan korupsi penerbitan izin kehutanan masih belum tuntas. Saat terakhir kali saya menanyakan kelanjutan kasus ini kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), mereka menyatakan masih terus menelusuri dugaan keterlibatan Rusli dalam kasus yang merugikan negara triliunan rupiah ini.

Kalangan aktivis lingkungan Riau, seperti Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), Jaringan Pekerja Penyelamatan Hutan Riau dan Greenpeace juga telah mendesak agar kasus ini diusut tuntas. Rusli diduga mengeluarkan surat izin penebangan hutan yang tidak sesuai dengan ketentuan.

Akibat kasus ini, Bupati Kabupaten Pelalawan Riau, Azmun Jaafar telah dihukum 11 tahun penjara oleh Pengadilan Tingkat pertama. Saya mengikuti sidang vonis itu dan mendengar pernyataan Azmun yang meminta agar Rusli ikut bertanggung jawab. Menurut Azmun, Rusli yang ikut mengesahkan Rencana Kerja Tahunan harus turut dinyatakan bersalah.

Kebenarannya, memang masih harus dibuktikan secara hukum, itu urusan KPK. Tapi kita sebagai blogger, setelah mengetahui dua sisi tersebut, bisa memilih. Mengutip buku Mas Ndoro, blogger harus tetap bersandar pada hati. Monggo. Kalian pilih mana?

*soal Google dan SEO, saya sih berharap tulisan ini bisa menempati halaman pertama Google juga hihihi*

ps: gambar dari webnya greenpeace saat aksi di depan KPK tentang kasus ini.

Saat Langit dan Laut Begitu Biru

suatu siang di pantai Ujung Genteng.
just love love love love this picture!

thx tupic for the shot!

Penyu Pantai Pangumbahan, Ujung Genteng


“Mau telur penyu neng?” tanya Bang Ujang, tukang ojek yang membawa saya menuju pusat konservasi penyu di pantai Pangumbahan, Ujung Genteng. Menurutnya selain lezat telur penyu memiliki khasiat serupa obat. Menyembuhkan hipertensi, pegal linu, penambah kejantanan dan lai-lain.

Bang Ujang menawarkan harga Rp 4ribu untuk setiap butir telur penyu. Bentuknya bulat seukuran bola golf dan berwarna putih berkilauan saat keluar dari perut penyu hijau induknya.

Telur itu didapatkannya dari para penjaga pusat konservasi. “Sudah biasa neng, sebagian besar telur memang dijual oleh para petugas,” ujarnya sambil memacu motor melintasi lahan offroad menuju tempat konservasi penyu. Namun, menurut si abang, para pencari telur tidak menjualnya secara langsung di pusat konservasi. Siapa butuh, bisa pesan.

Jenis penyu yang banyak terdapat di pantai Pangumbahan adalah jenis penyu hijau atau Chelonia mydas. Penyu hijau dewasa bisa mencapai panjang 1,5 meter dengan berat sampai 300 kg! Sekali bertelur penyu betina bisa menghasilkan 100-200 butir telur.

Telur penyu di alam liar rentan dimangsa predator. Manusia lalu membentuk pusat konservasi untuk -katanya- melindungi mahkluk yang telah diberi status terancam punah sejak 2004 dan tinggal tersisa 6 spesies itu.

Kenyataannya manusia malah menjadi predator baru bagi para penyu. Bahkan hanya beberapa detik setelah telur itu dilahirkan, dia sudah berpindah ke tangan distributor. “Buat tambah-tambah penghasilan,” kata bang Ujang.

Manusia, memang ancaman terbesar bagi isi bumi yang lain.

Penyu dewasa biasanya kembali ke pantai tempatnya menetas saat akan bertelur. Namun, penyu juga hanya bersedia bertelur di tempat yang gelap tanpa cahaya dan tanpa suara. Saya membayangkan, bisakah tukik pantai Pangumbahan kembali ke tempat dia menetas saat akan bertelur 50 tahun lagi?

Bantulah dia. Dukunglah pembangunan resort-mewah-tepi-pantai. Saat bermain ke ujung genteng, jangan lupa membeli telur penyu. Kamu bisa makan telur penyu rebus sambil membuang baterai bekas ke tepian pantai. Nikmat ya?

PS: Perjalanan ke pantai cantik Ujung Genteng sudah ditulis oleh kawan-kawan seperjalanan. Sila buka tautan berikut:
Jeng-jeng Ujung Genteng dan Ujung Genteng

Dua Vampir Beda Dunia

Dua film, satu tema. Kisah cinta antara vampir dan manusia. Vampir yang muncul tanpa taring dan jubah hitam. Si manusia menerima vampir apa adanya, dan sang vampir tak ingin mengajak pasangannya jadi vampir juga. Mereka sama-sama tinggal di sebuah kota kecil dingin suram tanpa matahari. Dua vampir ini juga bisa melompat-lompat kian kemari dengan bebas lepas. Salah satu kemampuan yang akan mereka gunakan untuk melindungi orang-orang terkasih.

Tapi dua film yang kunikmati minggu ini, mengemas kisah itu menjadi sangat jauh berbeda. Seperti beda antara jamu yang murah pahit tapi menyembuhkan dan softdrink yang mahal manis tapi merusak kesehatan. Twilight dan Let The Right One In.

Twilight diliputi cahaya terang. Sang vampir berwajah superganteng dan kulitnya berkilauan diterpa cahaya matahari. Vampir yang selalu necis itu hidup di rumah mewah dengan pemandangan luar biasa ke arah hutan -penyuplai makanan. Edward tinggal bersama keluarga Cullens yang mendukung dan mencintainya. Mereka berhasil menahan nafsu membunuh dan bertahan hidup hanya dengan memangsa hewan. Edward tak butuh tidur maka dia pergi ke sekolah -bahkan mengkoleksi toga wisudanya- bermain piano dan baseball saat senggang. Sepertinya bagi mereka keabadian adalah berkah. Hidup terasa mudah.

Let Your Right One In adalah kelam. Sang vampir terjebak dalam tubuh gadis kecil berusia 12 tahun bernama Eli. Eli selalu nampak kumal, kurus dan berjalan dengan canggung. Alih-alih pergi ke sekolah, Eli tinggal sendirian dengan tubuh bergetar menahan lapar, haus darah. Dia tak punya siapa-siapa ketika pria tua yang tinggal bersamanya tertangkap polisi. Saat lapar tak tertahankan, Eli meloncat ke pundak korbannya untuk mempertahankan hidup. Waktu siangnya dihabiskan dengan tidur dalam bathtub, karena jika terkena cahaya matahari niscaya tubuhnya akan terbakar habis.

Tapi Twilight mampu meraup 200 juta dolar sementara Let The Right One In hanya mendapat 200 ribu saja. Padahal secara sinematografi, Twilight bukan apa-apa dibanding Let Your Right One In. Rating rottentomatoes untuk Twilight adalah 34 % dan 97% untuk Let The Right One In. Jauh!

Tapi entah bagaimana, ide vampir romantis vegetarian yang berkencan dengan manusia dalam Twilight berhasil membuatku keluar dari 21 Setiabudi dengan berbunga-bunga. Sedangkan Let Your Right One In benar-benar memukau dan berhasil membuatku merasa ngeri. Grand Indonesia yang sudah kosong saat film selesai waktu tengah malam makin menambah perasaan mencelos dalam hati.

Pada akhirnya, cintalah, yang menaklukkan dunia haha

*diposting di Wetiga dengan membajak leptop antonseptian*

Cerita 12 Tahun Lalu

Sekitar tahun 1960-1970 an, Malaysia banyak sekali mengimpor guru-guru dari Indonesia. Mereka menganggap mutu pendidikannya jauh dibawah Indonesia sehingga perlu belajar banyak dari kita.

Salah seorang guru saya pernah berangkat mengajar para encik-encik Malaysia itu. Namanya Suryadi, sekarang almarhum Suryadi. Kami biasa memanggilnya Pak Sur. Ceritanya, saat disana dia ditanya mengenai besar gajinya oleh salah seorang guru Malaysia bimbingannya itu.

Saat itu Pak Sur tahu bahwa para guru Malaysia digaji jauh lebih besar dari gajinya. Agar tak malu, Pak Sur menjawab dengan melebihkan gajinya yang saat itu hanya Rp 10 ribu*. “Gaji saya seratus ribu perbulan*,” bualnya bangga.

Tanggapan para rekan sekaligus muridnya itu ternyata membuatnya terkejut. Mereka menatap Pak Sur iba. “Aduh, sedikit sekali gaji Anda pak, kami disini dibayar beberapa kali lipat lebih banyak,” ujar kawan-kawannya itu. Dan Pak Sur hanya bisa senyum-senyum sepet.

Cerita ini beliau ceritakan di depan kelas, suatu hari di tahun 1996. Waktu itu saya baru kelas satu SMP. Tahun itu juga tahun terakhir Pak Sur mengajar sebelum pensiun. Sampai pensiun, gajinya belum juga naik sebesar gaji para guru Malaysia itu.

Untuk menambah pemasukan, dia berjualan warung kejujuran di sepanjang sekolah. Dia percaya pada kami. Warung itu meja beroda yang bisa dipindahkan kesana kemari, siapapun yang akan membeli tinggal mengambil barang dan meletakkan uang. Serupa warung kejujuran yang sekarang ada di KPK atau Kejati.

Kembali soal gaji guru. Sampai sekarangpun, tahun 2008, masih banyak guru-guru serupa Bu Mus di Laskar Pelangi yang harus menghidupi diri dengan pengusahaan lain. Namun mereka tetap menjadi guru, agar kamu bisa merentangkan tangan, dan meraih dunia.

Selamat Hari Guru, para guru Indonesia!
Selamat Hari Guru, papaku tercinta!

*nilai tepatnya saya lupa, tapi kira-kira 10 kali lipat.

Berbenah Setelah Pesta

Komunitas Blogger Jogjakarta Cahandong memenangkan penghargaan Blogging for Society Awards di Pesta Blogger 2008. Menurut sang chairman -yang mengaku tidak ikut memilih karena belio juga anggota CA- Cahandong dipilih karena telah melakukan banyak kegiatan dalam setahun yang berdampak luas kepada masyarakat dengan menggunakan media blog.

Salah satunya adalah proyek nirlaba terbaru Cahandong, wajah jogja. “Semangat melakukan sesuatu untuk orang lain tanpa dibayar adalah sebuah hal yang luar biasa,” kata Ndoro pada sesi bincang-bincang bersama CA di tengah pesta.

Sebagai salah satu anggota tentu saja saya merasa bangga kepada CA. Tapi sebagai pribadi, saya justru merasa tertohok. *jlebb* Sebagai blogger, apa yang sudah saya kontribusikan kepada society? Setidaknya kepada pembaca?

Ah sepertinya saya masih harus banyak berbenah. Untuk memberi, bukannya menuntut.

terimakasih pada Pitra atas fotonya!


Pranoto Mongso

March 2010
M T W T F S S
« Nov    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

sitemeter