Tentang IPDN


IPDN

Saya sangat heran dengan kasus IPDN yang sedang jadi sorotan sekarang ini. Ini mengingatkan saya tentang sebuah istilah psikologi, altruisme. Altruisme adalah perilaku menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalan. Orang yang altruis menolong orang lain tanpa memikirkan manfaat yang dia dapatkan ketika menolong orang lain.

Makanya, kasus IPDN membuat saya bergidik ngeri. Ternyata ada antonim dari altruisme. Menyakiti orang lain tanpa mengharap imbalan. Menyakiti orang lain tanpa mendapat manfaat untuk dirinya sendiri. Perampok menyakiti orang lain, karena dia akan mendapatkan materi hasil rampokannya. Pengantin Azahari menyakiti orang lain (dan dirinya sendiri) karena mereka percaya akan mati syahid. Ular sendok akan menyerang, saat ia merasa terancam. Tapi para preman IPDN ini, mereka menyakiti orang lain dengan alasan pendidikan tanpa alasan! Sungguh mengerikan.

Hal ini sangat mungkin disebabkan oleh adanya ideologi yang kuat mengakar, memberikan pembenaran bagi tindakan kekerasan di luar akal sehat itu. Lalu para senior itu bersembunyi dibalik nama institusinya, mengaku bertindak atas nama kelompok untuk meredam jeritan hati nuraninya sendiri. Kira-kira “Ah tidak apa-apa saya memukuli mereka, ini tugas kok. Saya bukan Bejo, saya bukan Tukul, saya IPDN .”

Diluar dari berbagai solusi yang ditawarkan, saya ingin menitik beratkan sisi psikologis para praja. Cliff Muntu, adalah korban. Tapi sebagian besar praja juga adalah korban, bedanya mereka tidak mati. Ditanami bibit kekerasan, akan sangat berbahaya jika mereka dilepaskan keluar ke dunia luar begitu saja. Dibubarkan atau tidak, para praja harus diberi edukasi mengenai akar kekerasan. Bisa oleh psikolog yang kompeten atau pihak ketiga yang berpengalaman dalam rekonsiliasi dan community building. Pemberian edukasi ini termasuk pengertian tentang kebutuhan dasar manusia, proses sosial psikologis kekerasan. Penerapan pendidikan ini dapat memberi penyadaran dalam diri mereka untuk mengurangi dan menghilangkan proses pewarisan kekerasan. Semoga dengan begitu, rantai kekerasan bisa diputus.

Dan saya tetap setuju dengan pembubaran IPDN. Para blogger menyatukan barisan untuk membubarkan IPDN. Jika kamu juga setuju, mari tandatangani petisinya!

Information and Links

Join the fray by commenting, tracking what others have to say, or linking to it from your blog.


Other Posts
Bendera Pelangi
Todong Dia dengan Senjata Api

Write a Comment

Take a moment to comment and tell us what you think. Some basic HTML is allowed for formatting.

biri-biri

Reader Comments

setuju…
aku dah sign itu petisi
bubarkan IPDN!
eh, pertamaxxxxxxxxxxxxxx ya?
*clingak, clinguk

mau comment..
itu foto ne kok bagus ?? fotografer nya siapa ??? pasti keren deh ^_^

comment yg gak nyambung huehehehe…

Iyap.. tahu ngga kalo misalnya blog ini di publikasikan lebih luas lagi.. pasti petisi online-nya tambah banyak, well setuju ngga setuju bukan masalah disini yang jadi masalah paling krusial adalah bagaimana cara memperoleh solusi yang terbaik, kalo dibubarkan, itu merupakan solusi singkat sahaja.. pasti nantinya ada efek domino yang menyertai-nya.. jadi pemerintah harus bijak dalam hal ini.. tapi kalo nantinya hanya menjadi killig field saya juga setuju kalo IPDN dibubarkan, tetapi harus dipikirkan juga nasib prja2 yang masih mengenyam pendidikan di sana…

udah ah.. yang penting saya dah ngisi petisi onlennya, as usual.. lugas dan tidak bertele-tele… i like it..

Cheers..

ada yg kurang..
mksd ne foto dirimu, yg paling atas..bukan foto yg IPDN :D

don’t worry deh…

kehidupan ini penuh dengan kekerasan kok…

bubarkan saja yuk kehidupan sekalian…

heheh…

*makan di KFC sambil ngeliat pengamen dipukulin satpam…

Type your comment here.

terharu korban berjatuhan, dan semua ini. mungkin karena aku terlalu cinta damai. maka petisi seperti pembubaran IPDN ini bagai pinang dibelah 2.

membaca sekilas “DUKUNG PENDIDIKAN TANPA KEKERASAN DAN INTIMIDASI !!!” tanda serunya saja 3. kok jadi ikut-ikutan keras begini? bikin merinding anak-anak saja. biarkan para pakar pendidikan mencari cara lain yang lebih bersifat soft-power.

TAK PERLU MEMBUBARKAN IPDN.

tidak bisa disamaratakan donk.
ipdn itu adalah kekerasan yang tidak pada tempatnya. kekerasan ini terjadi di institusi pendidikan. seharusnya, yang dikedepankan adalah intelektualitas, bukan kekerasan.
kalo hidup ini keras, maknanya gak sama dengan kekerasan di IPDN.
jauh berbeda.
jadi wajar kalo IPDN dibubarkan.

saya dulu pas SMP pernah dipukulin sama temen sekolah… abis itu pas pulang di angkot masih ada juga ancaman dipalakin dan dipukulin sama anak SMP 13… ancaman seperti itu terjadi hampir selama 3 tahun selama saya di SMP, maklum dulu masih cupu… halah… hueheheh…

weleh ternyata kekerasan tidak pada tempatnya tuh banyak yaaa…

oke IPDN bubar, nanti pemerintah nunjuk salah satu Universitas normal untuk nitipin calon2 bangsat… eh, pejabat misalnya… ternyata besok-besoknya mereka malah tawuran sama anak jurusan Teknik Bahasa… ada yg mokat… terus muncul lagi petisi “Bubarkan salah satu Universitas untuk nitipin calon2 bangsat… eh, pejabat. alasannya calon pejabat kok tawuran, ntar kalo jadi pejabat bahaya…”

terus bubar lagi, lalu pemerintah nunjuk salah satu Universitas normal lainnya lagi untuk nitipin calon2 bangsat… eh, pejabat misalnya… ternyata besok-besoknya mereka malah tawuran sama anak jurusan Seni Mesin… ada yg mokat… terus muncul lagi petisi “Bubarkan salah satu Universitas untuk nitipin calon2 bangsat… eh, pejabat. alasannya calon pejabat kok tawuran, ntar kalo jadi pejabat bahaya…”

terus bubar lagi…

terus bubar lagi…

capek deh…

jangan salah, saya juga gak setuju kekerasan di IPDN. tapi main bubar bubar… ada hal lain yg patut dipertahankan disana berupa salah satunya kedisiplinan, yang kayanya jauh lebih handal dibanding mahasiswa normal lainnya…

saya tahu… saya sadar dari awal.. bahwa dengan pembubaran IPDN, lalu persoalan menjadi terhenti. ada banyak masalah yg juga harus dipecahkan dengan (misalnya) IPDN dibubarkan. dan kemungkinan yang anda khawatirkan itu bukannya tidak mungkin terjadi. itu sangat mungkin.

persoalannya, kita kembali ke esensi IPDN.
mari kita tanya ke Pemerintah. pak, IPDN itu buat apa aslinya? buat mencetak birokrat? kenapa IPDN diistimewakan?
bukankah birokrat itu bisa didapat dari universitas umum lainnya juga? lantas mengapa harus ada sekolah khusus begitu?

jika kita sudah dapat esensi pendidikan itu, lantas kita bertanya, apa gunanya kekerasan itu? apakah calon birokrat harus saling pukul seperti itu?

imho, rangkaian kebrutalan di ipdn ini harus kita jadikan pintu pembuka untuk membenahi sistem pendidikan negeri ini yang juga banyak salah kaprahnya.

mari kembali ke dasar hukum penyelenggaraan pendidikan kedinasan ini. dalam PP no 60 tahun 1999 yang merupakan PP yg diamanatkan UU No. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional (yg kemudian diubah dgn UU no 20 tahun 2003) disebutkan bahwa:
“Pendirian perguruan tinggi kedinasan selain memenuhi ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 118, harus pula memenuhi
persyaratan :
a. melaksanakan pendidikan tenaga yang dibutuhkan departemen lain
atau lembaga Pemerintah lain yang tidak dapat dipenuhi oleh
satuan pendidikan tinggi di lingkungan Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan baik dalam jumlah maupun kualifikasi” (Pasal 119 ayat (2)).

jadi pendidikan kedinasan itu diperlukan jika PTN/PTS umum sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan birokrat kita. bagaimana jika calon birokrat itu diambil dari UGM, UI, Unpad, Undip, Unsoed, Unibraw dll saja?

saya pikir, itu sudah cukup menjawab apakan IPDN (dan sejumlah sekolah2 kedinasan lain) masih diperlukan keberadaannya.
(prof maria sumardjono, guru besar hkm agraria ugm yg mantan waka BPN pernah bilang ke saya: kompetensi anak2 lulusan STPN (Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional-sekolah kedinasan BPN) itu tidak lebih baik dari sarjana2 hukum dari univ umum.)

ralat paragraf 1: saya tahu… saya sadar dari awal.. bahwa dengan pembubaran IPDN, persoalan tidak menjadi terhenti. ada banyak masalah yg juga harus dipecahkan dengan (misalnya) IPDN dibubarkan. dan kemungkinan yang anda khawatirkan itu bukannya tidak mungkin terjadi. itu sangat mungkin.

“dan kemungkinan yang anda khawatirkan itu bukannya tidak mungkin terjadi. itu sangat mungkin.”

wah jadi betul dong saya… gak perlu bubarin ini itu wong sama saja :P… habisnya masih serba mungkin dan sangat mungkin sih…

dan ttg pasal2 dan pertanyaan perlu tidaknya sekolah kedinasan itu baru bener. gitu dong harusnya, kalo mau bubarin ya bubarin semuanya… bikin orang susah cari kerja aja… hueheheheh… setuju kalo ini mah hihihihi…

err… jadi intinya bukan soal kekerasan kan? soal tenaga kerja doang ternyata…

“prof maria sumardjono, guru besar hkm agraria ugm yg mantan waka BPN pernah bilang ke saya: kompetensi anak2 lulusan STPN (Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional-sekolah kedinasan BPN) itu tidak lebih baik dari sarjana2 hukum dari univ umum.”

dan tukang bakso langganan saya bilang prof maria sumardjono tidak lebih baik dari saya… wuakakakaka…

eh, orang penting ya? maap kalo gitu yah prof maria…

soal kekerasan iya, soal ketenagakerjaan bukan.
itu bukan ketenagakerjaan bung.
kalo misalnya, UGM jadi biang kekerasan juga (karena merasa paling hebat, misalnya. sebagaimana terjadi di IPDN, di mana kekerasan bermula dari arogansi), saya pikir UGM juga layak buat dibubarkan.
pembubaran bukanlah solusi final
pembubaran hanyalah sebuah upaya, langkah awal untuk perbaikan semuanya.
menurut saya, tidak ada solusi final atas sebuah masalah. kesemuanya adalah dialektika. proses perbaikan harus tetap berjalan. IPDN dibubarkan, kekerasan lenyap di Indonesia? mimpi!
IPDN dipertahankan, korban makin banyak? (hampir) pasti! alasannya?
lihat saja tim investigasi.
apa yang mereka dapat di sana?
bungkamnya rektor, dekan, dosen, praja.
jangankan cuman ryaas rasyid.
mau dipimpin mendagri pun, mafia2 itu tetep saja bakal omerta!
perbaikan seperti apa lagi yang diharap dari sikap semacam ini?

##Written by: godsoul
… ada hal lain yg patut dipertahankan disana berupa salah satunya kedisiplinan, yang kayanya jauh lebih handal dibanding mahasiswa normal lainnya…

Menurut pengamat militer dan instruktur TNI AL, Johanes Judiono, pendidikan di IPDN dibuat semimiliter akibat pegawai negeri tidak disiplin.
Mungkin comment Anda perlu diralat, bukan mahasiswanya, tapi kampusnya. IPDN memang sengaja dibuat semi militer utk membentuk kedisiplinan, jika Anda bandingkan dengan ‘mahasiswa normal’ tentunya tidak relevan. Anda kuliah dmn ? kalau ‘universitas normal’ apa ada mata kuliah kedisiplinan atau baris berbaris ? tapi lain masalahnya jika Anda ikut menwa :) IPDN memang dibuat semi militer, disiplin, tetapi hasilnya malah maen ‘hajar bleh!’ (Anda pasti juga yakin, bukan itu bentuk disiplin yang sebenarnya). Kemudian Alumninya, (bukan bermaksud generalisasi), tetapi tidak dpt dipungkiri, lulusannya hampir pasti menjadi aparat pemerintahan, pejabat, lalu hasilnya ..image pejabat skr ?. (hasil dari disiplin juga ?).
Mereka (mhs IPDN) sudah mendapatkan kuliah gratis, uang saku, kerjaan menanti setelah lulus (itu kita yang bayar lho :p), cita-cita ingin jadi abdi negara, abdi masyarakat. Tapi kok sampae skr, saya (sebagai rakyat jelata) blom merasa ‘pengabdian’ mereka ya.. (*aneh - menurut saya).

kok bisa bisanya bilang korban pasti makin banyak kalo IPDN dipertahankan sih…

oooh… gitu rupanya…

jadi saya dikiranya mendukung IPDN nya dipertahankan plus mereka tetep pake seragam, tetep pake akses2 kekerasan, tetep pake tanda pangkat senior-junior, tetep sok militer…

i see i see… maaf, saya kira yg berpikiran begitu saat ini cuman praja IPDN doang.

saya sempat komentar gini padahal di sini:

“jangan salah, saya juga gak setuju kekerasan di IPDN. tapi main bubar bubar… ada hal lain yg patut dipertahankan disana berupa salah satunya kedisiplinan, yang kayanya jauh lebih handal dibanding mahasiswa normal lainnya…”

dan rupanya anda berpendapat mempertahankan IPDN itu adalah juga dengan mempertahankan semua elemennya tanpa kecuali, BAHKAN SETELAH KEJADIAN KEMAREN? ya ampun… apa ada sih yg berpikiran gitu selain mereka yg di IPDN?

kalau misalnya saya undo semua komentar saya diatas, lalu diganti jadi “gak perlu bubarkan IPDN, cukup tutup semua akses kekerasan dari dalam kurikulum sampai seragam, sampai tempat tinggal” gimana? masih ngotot gak cukup, dan tetep milih bubarkan IPDN?

itu makanya saya kira dan tulis soal pembubaran pembubaran ini sebagai “cuma soal ketenagakerjaan doang”…

IPDN sudah pernah diberi kesempatan berubah. eh tidak berubah justru makin parah.
nama sudah diubah, rektor sudah.
tapi, kebiasaan tetap.
Rp 158 M per tahun sesungguhnya terlalu banyak utk orang2 yg tdk mau berubah.

@ erha,

sama, saya belom merasakan pengabdian mereka kepada saya. makanya, daripada cuma bubarkan IPDN, bubarkan Indonesia, dan bubarkan kehidupan kayanya lebih cocok menurut hemat saya.

dan sekali lagi, saya juga gak setuju juga sama sasana pemerintahan itu… saya pengennya jadi studio seni pemerintahan… heheheh…

tapi ternyata banyak yang lebih suka rumah kosong pemerintahan, dan lebih suka hura hura pemerintahan… heheheh… maap lho, saya gak generalisasi, tapi emang generalnya sih mahasiswa jaman sekarang kebanyakan hura hura, termasuk saya dulu… hahahah…

*ngopi di Starbucks sambil lihat pengemis dilindas mercy…

IPDN kan hanya satu tempat. sumber yang lain utk mengisi pemerintahan masih banyak. gak usah skeptis dan pesimistis. gak ada yang mau terjadi anarki dgn tdk adanya negara. tapi, pilihlah aparat negara dari persona2 yang berotak sehat dan kondisi psikis sehat pula.

STPDN sudah diberi kesempatan berubah NAMA nya jadi IPDN. harusnya itu yg ditekankan. lha wong isinya sama aja, masih pake seragam, masih pake atribut senior-junior, pembinaan masih sama… sok militer. kecuali kalo udah berubah luar dalam masih kaya gitu.

lha ini cuma ganti kop surat sekolahnya doang, begitu muncul kejadian serupa masih kaget… ya seharusnya wajar lah. kehidupan taruna di akmil tuh kaya gitu (kata temenku dulu, gak tau hiperbola atau bukan) selama masih jadi junior, digebugin mulu, tapi ya wajar wong tentara. katanya senior tuh emang semena2 kalo udah pake atribut dan seragamnya.

coba dibikin kaya STAN tuh. kan resiko pukul2an bisa diminimalisasi. tujuannya nyetak birokrat di IPDN kan biar memang orang2 nya bener2 pilihan dari daerah, itu yg mungkin bisa jadi pemikiran untuk mempertahankan sekolah ini… kalo ada KKN soal pemilihan putra daerahnya, yo meneketehek, udah diluar lapangan itu mah…

setidaknya di sekolah2 kedinasan gitu strict bgt aturannya, gak bisa molor kuliah sampai 17 tahun gak lulus lulus jadi macan kampus mahasiswa abadi abadi sekali…

di kampus umum juga ada batasannya kok. 14 semester alias 7 tahun. tdk termasuk cuti.

jadi, saya sudah nggak ngeliat urgensinya lah sekolah ini dipertahankan. alasan utk mempertahankan itu sudah terlalu lemah dan sedikit (tentu saja ini subyektif saya, yang lain boleh tidak setuju)

meskipun model STAN itu bagus, bukan berarti bisa di copy paste diterapkan ke sekolah kedinasan lain.
dan ingat sekali lagi, IPDN itu sekolah sipil! untuk mencetak birokrat, PNS (Pegawai Negeri SIPIL).
buat apa pembinaan2 ala militer yg keterlaluan bin kebablasan seperti itu?

setahu saya Akmil keras, tp tdk merusak. toh itu jg ada tujuannya. tentara itu kan harus siap mati saat perang. jadi ya memang harus digembleng fisik dan mentalnya (dgn terukur tentunya) *ini hanya perkiraan saya, kenyataannya saya nggak tau

Lah, ini masih diomongin juga masalah militerisme di IPDN?

emangnya dari kalimat saya di atas atas itu tampak ada yg menyiratkan saya setuju dengan itu ya?

please god…

yeah, urgensinya emang kecil untuk mempertahankan IPDN, karena lebih baik ambil birokrat dari… err… aduh ngeri saya bilangnya kalo inget masa kuliah dulu… lingkungan anak IPDN saya akuin lebih unggul dalam hal satu ini, manajemen hidup. bangun pagi, lari pagi, mandi pagi, sarapan pagi, dandan pagi, semua serba pagi… tapi soal nyawa sih emang saya bersyukur bgt gak di sono, soalnya ada pukulan pagi juga hahahahaha…

angkat sekali lagi gelasmu kawan…

== godsoul
.. bangun pagi, lari pagi, mandi pagi, sarapan pagi, dandan pagi, semua serba pagi…

Sipp, berarti anak-anak mulai tk, sd, smp, sma sudah punya manajemen hidup yg bagus (spt yg dimiliki IPDN), mungkin beda dibagian lari paginya yg hanya seminggu sekali. (kecuali ada jadwal olah raga tiap hari).
Tapi IPDN jelas lebih unggul, krn ada jadwal ‘pelatihan fisik’ .. ciattt dzigg !

benar sekali erha.

tapi sayang sekali lulusan SMA tidak bisa langsung jadi ajudan bupati ya…

habisnyaaa… anda cuman bilang tk (dimana seingat saya dulu belom bisa bangun pagi sendiri, mandi sendiri, berangkat sekolah sendiri, apa apa sendiri…)sd, smp, sma siih… coba sekalian bilang kuliah… pasti saya manggut manggut…

apakah itu berarti anda juga sealiran dengan saya (aliran bangun siangan dikit, kalo males kuliah yo bablas sampe jam 12 lalu nongkrong di game center main counter strike) dulu pas kuliah? heheheh…

itu bikin saya susah lho pas pertama kerja dulu, harus berangkat dari bekasi jam 7 pagi… wuih, kudu membangun kembali jam tubuh yg udah kebiasa bangun jam 8-9 an jadi bangun jam 6 lagi… huahahaha…

“nggak sholat ya?”

halah… abis sholat yo micek lagi tho biasane…

eh, ini ngebahas kedisiplinan kampus IPDN vs kampus tersekat atau kedisiplinan kampus IPDN vs tk, sd, smp, sma ya? duren montong dibandinginnya sama duren pasar kembang dong…

membandingkan duren montong dengan apel malang adalah bodoh.

wuih.. kok jadi rame ya??? hem… jadi seru negh… *belum bisa comment, cuman bisa mengamati dulu*

lho, mas godsoul gmn toh ? :p
saya kan hanya meneruskan analogi anda tentang manajamen hidup yg serba pagi itu, coba ada tulisan ‘SENDIRI’, pasti saya ga sebut tk dan sd.

wah, maap mas, saya tidak sealiran dgn anda, ga punya duit buat nongkrong di game center. duit hasil kerja ga seberapa, bayar spp juga masih kurang.
kalo maen cs, ya minta dibayarin temen, atau mrk yang nawarin :p

yang bahas kedisiplinan kampus IPDN vs tk, sd, smp, sma sapa mas? (ato jangan2 definisi kedisiplinan menurut IPDN hanya yg serba pagi itu?)

apel malang ?
jadi inget di surabaya (yg deket malang itu), ajudan walikota Surabaya yg sekarang, Kenny Pieter Tupamahu, salah satu terdakwa kasus kekerasan juga th 2003. Sudah ada putusan vonis dari MA, tapi masih dengan enaknya bekerja dan trima duit.
(handal sekali kedisplinannya, meskipun sudah divonis, tetap bekerja, top dah!).

wah ada mantan mahasiswa kere… huahahahh kasian deh lu…

llaaah… kok dia jadi gitu siiih… kan dia yg yg nulis soal anak tk sd smp sma yg sama hebatnya sama anak IPDN soal pagi-pagian… bukankah itu artinya anda membandingkan??? mem-”vs”-kan? anak IPDN dibandingin pagi pagiannya ya sama anak Univ umum dong (saya misalnya :D)… ini dibandingin sama tk sd smp sma, nenek nenek orgasme juga tau mereka masuknya jam 7 pagi. kalo mau ngebandingin dengan anak tk sd smp sma, ya bandingin juga sama anak IPDN pas mereka tk sd smp sma… kan sama.. hueheheh…

menurut saya disiplin cuman serba pagi? yo jelas tidak tho, tapi dari yg paling simple macam itu aja udah ketauan sih asline menungso ki koyo ngopo… tapi sebenernya anda ini goblok apa pura pura pinter?

kalau menurut anda manajemen hidup dan kedisiplinan itu gak sebatas serba pagi itu, kenapa juga anda ngebandingin anak IPDN soal serba pagi itu sama anak tk sd smp sma (kesel nulise dab…)? mbok beberkan sini kedisiplinan yang anda maksud lebih unggul dari anak IPDN…

udah, gak usah dipanjangin lah… masa masih gak mengakui sih kalo dalam hal kedisiplinan mahasiswa biasa kalah sama anak IPDN? malu ah.

tetep lho, saya gak setuju juga sama pembunuhan Wahyu dan Muntu dan lainnya di sasana pemerintahan itu…

btw…

“jadi inget di surabaya (yg deket malang itu), ajudan walikota Surabaya yg sekarang, Kenny Pieter Tupamahu, salah satu terdakwa kasus kekerasan juga th 2003. Sudah ada putusan vonis dari MA, tapi masih dengan enaknya bekerja dan trima duit.”

WOW!!! HOT NEWS!!! SENSASIONAL!!! BENAR BENAR BUKAN BERITA YANG BASI!!! BRAVO!!! dan saya berani bertaruh anda pasti mengira saya setuju dengan hal macam diatas itu… hueheheh

INTERMEZO
pertama saya orang yang tidak setuju dengan kekerasan, apalagi yang dilembagakan. namun saya juga tidak setuju dengan pembubaran STPDN. kesalahan terdapat pada sistem, bukan bangunan secara utuh. katakanlah dalam seonggok tubuh yang salah adalah dalam cara berpikir, bukan berarti untuk memperbaikinya dengan membunuh tubuh tersebut kan?
Kekerasan bisa mewujud dalam banyak hal. Ia bisa mencari rupa yang pas untuk tubuhnya. Mulai dari yang paling purba maupun menyusup kedalam relung-relung yang paling manusiawi sekalipun. Ia bisa mengelabuhi manusia dengan sosok penampilannya yang necis, rapi dan wangi. Namun ia juga tak lupa untuk hadir dalam wujudnya yang sesungguhnya. tetesan darah, wajah garang, maupun kilatan senjata tajam. Namun semuanya memiliki definisi yang sama, ketiadaan unsur kemanusiaan.
Seringkali kekerasan terjadi tanpa kesadaran. Inilah kekerasan yang tampan. Lebih banyak juga kekerasan telah melalui perencanaan yang matang. inilah kekejaman. Disini saya ingin mengatakan bahwa dengan menyarankan pembubaran STPDN, tanpa sadar kita telah terpeleset dalam jebakan kekerasan verbal-kekerasan intelektul. Kita telah memberi wajah pada kekerasan yang tampan.
*****

saya ingin sedikit menyitir pendapat saudara,”….Ditanami bibit kekerasan, akan sangat berbahaya jika mereka dilepaskan keluar ke dunia luar begitu saja….” adakah bukti empiris yang bisa menguatkan kekhawatiran ini? saya berpendapat, bahwa yang terjadi di STPDN belum sempat bersumber dari definisi ideologi, hanya pembiaran yang mendapat tempat yang tepat untuk berkembang. Kealpaan dari lembaga yang secara vertikal berkuasa atas terjaminnya sistem pendidikan di STPDN. Kebrobrokan sistem di STPDN bukan suatu hal yang sifatnya tunggal. Ada banyak sudut yang bisa digunakan untuk bisa melihat permasalahan yang telah menggurita di STPDN. Dengan kata lain, ketika para bloger berkesempatan untuk meyuarakan pembubaran terhadap STPDN, dapatkah juga pada kesempatan yang sama meyuarakan pembubaran terhadap Lembaga-lembaga yang lain yang juga telah melakukan kekerasan meski dalam wajah yang berbeda.
****
sedikit kata dari saya, bahwasanya manusia sepantasnya tak berperan sebagaimana halnya gelombang lautan. dimana untuk mempercantik penampilan karang ia berusaha dengan menghantamnya. hingga tanpa sadar ia telah menghancurkannya meski secara pelan-pelan.
memperbaiki bukan berarti menghancurkannya untuk kemudian menggantinya dengan hal yang benar-benar baru bukan? meski mengenai hal ini perlu banyak catatan untuk dijadikan sebagai batasan.

salam
seorang kawan, senang menyepi dan berdiskusi.

#godsoul
udah, gak usah dipanjangin lah… masa masih gak mengakui sih kalo dalam hal kedisiplinan mahasiswa biasa kalah sama anak IPDN? malu ah.

hallah iki maneh, tulisanmu kui lho dab :
membandingkan duren montong dengan apel malang adalah bodoh.

memang sangat bodoh!!
mahasiwa biasa kuliah di univ normal-normal saja, mhs ipdn ‘kuliah’ di kampus dgn sistem semi militer, kalau mau dibandingkan ya sama2 yg kuliah di kampus semi militer donk ahh :p ,ato paling ga kampus yg sama2 milik pemirintah spt STAN, STIS.
atau mau dibandingkan sama tingkat sma aja mas? sma taruna nusantara (yang jelas2 semi militer). hahaha..

wah ada mantan mahasiswa kere… huahahahh kasian deh lu…

walah ..


dan saya berani bertaruh anda pasti mengira saya setuju dengan hal macam diatas itu… hueheheh

yee… engga tuw, ngapain ngira2? :p
mau setuju ato ga kan urusan anda. taruhannya apa neh ? hhahahah

yo weslah.

met weekend smua ;)

sdr erha…

reding komprehensyen… and lojik

kalo IPDN dibandingin dengan sekolah kedinasan yang sama sama semi militer itu namanya…

duren montong di ancol dibandingin dg sama sama duren montong tapi di sarkem…

lagian emang saya mau dan bermaksud dan berniat dan yakin ngebandingin IPDN dan University umum kok, kan sebelumnya kita lagi debatnya sama om arya soal ngambil birokrat dari university biasa daripada dari sasana pemerintahan itu… kok saya gak boleh ngebandingin? apa hak anda ngelarang2 saya ngebandingin IPDN dg University umum? wong saya cuman ngikutin aliran debat kok…

seharusnya anda bikin dulu topik debat lain, “kenapa sih IPDN gak disamain aja kaya sekolah2 kedinasan lainnya yg gak neko2 militerisme?” nah, itu baru bener kalo mau ngelarang saya ngebandingin IPDN dg University umum…

emang duren beda sih ya dengan apel…

Baiklah.. *sambil nyruput kopi* sepertinya debat makin keluar dari jalur. Tolong tetap saling menghargai pendapat orang lain tidak saling menyerang secara pribadi ^^

Semoga kasus ini tidak luput dari perhatian kita dan hilang begitu saja saat media-media berhenti membicarakannya.

lha iyo ik… wong maune bubar vs rasah bubar kok malah dadi reding komprehensyen barang…

huuuu… payah lah…

wis ndang gawe artikel anyar wae lah…

N.B… aku jatuh cita (err… bukan dalam artian gay…) sama putut… komennya cool bangeeet!

Yup stuju Cya…Akyu udah sign jugah…
Akyu percaya : Pemimpin tidak akan lahir dari budaya kekerasan…

hihihi.. komentarnya diskusi? anak psikologikah?

saya juga pernah membahas ttg ipdn, dalam kasus ini, edukasi saja sepertinya tidak cukup, mungkin sudah pada tahap rehabilitasi otak akibat dokrinisasi selama belajar disana.Kasus kekerasan di ipdn adalah lingkaran setan waham-waham kebesaran dan kekuasaan yang terus berputar bersama dengan kekerasan itu sendiri.

cara paling baik, memang dengan membubarkan mereka, dalam artian mereka harus dikeluarkan dari sistem dan ditempatkan di sistem lain yang lebih manusiawi. Lalu dilakukan pencucian otak lewat dokrin-dokrin yang baru.. ya.. bicara kadang mudah, tapi melaksanakan ini sungguh sulit karena beribu-ribu orang ada dalam sistem tersebut.

ojo di bubarke to… Di beneri sik..

wah komen nya berat berat semua kiq.. nek aku manut aja deh.. mo bubar kek.. ngga bubar keq.. yang penting jangan ada cliff muntu yang berikutnya.. di manapun institusi pendidikan nya..

tidak ada kata lain: BUBARKAN IPDN™

BUBARKAN SAJA..!!!!
terus,lokasinya di bikin pabrik tahu apa parik tempe…lebih keren pabrik kecap..!!!!!

itu,klo saya jd PRESIDEN- negri ini..!!!

Saya termasuk orang yang sangat setuju bila IPDN dibubarkan!!! ketika saya nonton di TVRI.. gubernur akademi polisi berkata “Di akademi kami, tidak pernah ada hukuman2 yang dilakukan yg seperti IPDN lakukan. Jadi kami tekankan, bahwa di IPDN tersebut adalah perlakuan premanisme.”

Best Regards,

Your friend

kita ini sudah benar-benar lupa diri kesetanan iman dalam-dalam di lembah metropolitan. termasuk aku yang hidup didalam masyarakatnya. mari buka mata lebar-lebar pada petisi itu sebagai contohnya, dan rasakan. niat baiknya dibayangi sosok hipokritnya sendiri yang keras tersembuyi dan bila di wujudkan akan sama ‘chaos’-nya dengan I.P.D.N.

ingatlah pertanyaan paling mendasar sebelum kita mengangkat langkah pertama perjalanan ini kemudian berseru keluar sana, “SIAPA AKU?”. jangankan aku jadi presiden, seruan pun sudah melebihi presiden. saat kita cermati komentar-komentar disini yang diikuti kata ‘BUBARKAN!!!’ justru mengungkap fakta yang mencengangkan, bahwa kesimpulan yang dibuat tidak ada hubungannya dengan alasan yang sebelumnya telah diutarakan (h = 0). cobalah kata ‘BUBARKAN!!!’ diganti kata ‘PERBAIKI..’, mungkin dengan begitu, kesimpulan ‘equal’ dengan alasan yang telah dibuat.

akhir kata, jika ingin membubarkan premanisme dalam pendidikan semua orang waras pun setuju, namun sebelumnya bubarkan juga sifat-sifat preman dalam diri kita dalam berbagai wajah lain. kemudian buatlah petisi yang benar-benar dilandasi “cinta damai”.

salam omdo (omong doang).

iPDN ki nggo ngopo to? bubarken sahaja lah..

*hlo.. barusan dpt surat pembaca yang menyadarkan saya bahwa gambarnya bukan IPDN tapi IIP*

yah, walaupun rumus matematikanya:
IIP + STPDN = IPDN tapi tetap saja salah ya^^
tapi dah terlanjut basah.. biarin aja deh

saya setuju IPDN bubar mbak!
saya ikutan sign petisi boleh kan?
;)

cya: wah wah, sing mburekso berkenan datang lho.. wkwkwkw monggo mas..

surat pembacanya di-link donk… *craving for links
huahahahaha

Interesting…

Saya mw ikut debat erha vs godsoul.Soalnya dah bawa2 kampus tercinta saya,STIS,milik BPS. Memang, suasana d kampuz saya benar2 bebas kekerasan.Justru, itu yang membuat Mahasiswa terkesan menjadi malas dan semakin malas.Kedisiplinan sulit muncul dengan sendirinya.Paksaan dan tekanan lah yang membuat kedisiplinan dan cenderung membiasakan hidup dalam keteraturan.Sependapat dengan godsoul,juga bukan berarti saya menolak pembubaran IPDN.Sistem dan orang2 di dalam sistem yang harus diubah/diganti.Itu adalah PR sulit bin ngjelimet buat pemerintah, khususnya DEPDAGRI.#Saya akui,IPDN unggul secara kedisiplinan dibanding universitas umum meskipun belum tentu secara akademik.Kedisiplinan bukannya sama pentingnya dengan akademik.Kekurangan satu diantaranya adalah CACAT!!!!!!!!!!!!!!!!

Maaf sebelumnya,
kalian bicara panjang lebar tentang IPDN seakan kalian yang paling tahu.

Saya seorang praja merasa tidak enak kampus sya dibikin buah bibir, coba anda praja, anda bicara seperti itu karena anda bukan praja. saya sanksi klo anda ikut membiayai kami, dan saya yakin uang kuliah anda pun masih merengek minta dari ortu.

IPDN tidak senuhnya jelek, coba anda lihat, pendapatan asli daerah sumedang naik drastis karena praja, tukang ojeg dan angkot bisa hidup karena praja, rental mobil jika tidak ada praja udah di jual tuh mobil.

anak2 miskin tidak bisa sekolah kalau tidak dijadikan adik asuh oleh praja. setiap praktek lapangan masyarakat minta penugasan praja diperpanjang, setiap masa akhir praktek lapangan masyarakat menangis tak ingin berpisah dengan praja.

Kata siapa akmil tidak lebih parah dari IPDN, tradisi di IPDN adalah turunan dari akmil, semula pengasuh adalah mereka yang militer. apakah baris-berbaris militer? jika begitu anak2 pramuka SD yang diajari baris-berbaris berarti juga mereka didjari militer, tidak semua yang berbau ketegasan adalah militer, anda tiap senin pagi melakukan upacara bendera, anda melakukan penghormatan, itu adalah salah satu poin PBB peraturan baris-berbaris.

coba anda pikir IPDN yang serba diatur dan diawasi tetap saja ada yang gituan, bagaimana dikampus anda2 sekalian yang sama sekali tidak diawasi?

permasalahan akan jadi besar jika kita tidak bisa menyikapinya, tetapi sebesar apapun masalah jika kita cermat menyikapinya terasa ringan.

Kami praja tidak pernah mengeluh meskipun dipukul, krena kami anggap pukulan itu adalah SPP yang harus kami bayar, soal praja yang meninggal, mungkin emang takdirnya dia meninggal di IPDN.

SEbelum makan pagi, siang ataupun malam, kami dipush up dulu dan dibuat berkeringat dengan berbagai macam pembinaan fisik, itu adalah suatu penghargaan kepada orang luar yang telah membiayai kami, mereka bekerja bantig tulang bermandikan keringat demi untuk sesuap nasi, kami pun demikian, kami pun berkeringat sebelum makan, itu penghargaan kami.

apakh anda berkeringat sebelum makan atau sebelum menggunakann uang pemberian ortu kalian, yang mana ortu kalian berkeringat demi memberikan itu kepada kalian,. sebenarnya kami capek melihat tingkah laku kalian, yang gak ada apa2nya dibandingkan perjuangn kmi, kalian gak sekolah pun masih bisa hidup karena hrta ortu kalian, sukuri itu. tak ada gading yang tak retak, kami mencoba untuk menjadi pohon kelapa, semakin tinggi semakin ditiup angin dan emakin banyak tantangan dan rintangan, semakin tinggi semakin dilalap petir, tapi itulah cobaan, bukan seperti kalian yang maaf menjadi rumput, tidak terkena angin, dan petir, tetapi terus terinjak oleh orang-orang. “BERBEDALAH KALIAN MAKA KALIAN ADA” Tidak ada yang abadi di dunia ini semua akan mengalami perubahan yang abadi di dunia ini adalah perubahan itu sendiri. Semoga IPDN bisa berubah.

Pandanglah IPDN sebagai suatu kasus MULTIEFFECT…. sekali lagikalo memandang kasus itu sebagai suatu tindakan kekerasan, kriminal … atau pemborosan dana negara utk mencetak kader tukang pukul … berarti gantian .. otak anda yg harus di cuci … sekali lagi dicuci dgn pengetahuan yg luas tentnag hubungan simbiosis non mutualisme …
saya berkata demikian ini karena saya mungkin bisa merasakan bagaimana asal usul para praja itu dari lulus SMA sampai bisa masuk kesana, juga bagimana asal muasal para dosen, … juga juga silsilah bagaimana STPDN itu berdiri. Banyak sekali masalah kompleks serta mengarah ke efek bola salju kalo semakin disebarluaskan ke media massa. DOSEN= org yg bercita2 tinggi dgn pangkat rata2 golongan IV.. akhirnya saling senggol ketika mau menduduki suatu struktural yg memang bener2 terbatas di IPDN, padahal gol IV kalo ke daerah adalah raja2 kecil d ers otonomi ini. Sdgkan utk kembali ke daerah … bullshit, mau jadi staff ber-gol IV? … atau mau jadi badut di staff khusus bupati?
makanya muncul psikologist dosenisme yg merasa “AKULAH THE KING DI MATA KULIAH >>>>….?”
walhasil out put praja didikannya .. harus siagakan porseneling satu utk bisa menembus raja dosen di salah satu mata kuliah tertentu, tentunya dgn kedisiplinan yg super ketat agar bisa belajar dan tembus dgn nilai hebat. itu baru salah satu contoh kedisiplinan IPDN ,…
kalo mata kita mau dijereng atau dibuka dgn lebar sekali ..
lihatlah kasi PMD yg rata2 menyebar di daerah pelosok di hampir seluruh kabupaten di Indonesia .. merekalah ujung tombak pemerintahan di kabupatten dan rata2 lulusan STPDN, IPDN. Pantang komentar , pantang mengeluh, kerjakan tugas dgn semangat 45 .. itu yg dapat aku lihat. Soal disiplin di wilayah .. jgn tanya … no satu. Dibungkus performa pakaian yg selalu rapi, tegas menjawab warga yg bertanya, lembut menangani suatu masalah di warga.
JADI .. BUKA MATA, BUKA TELINGA, BUKA HATI … PRAJA & PURNA PRAJA… JUGA MANUSIA YG MEMPUNYAI MASA DEPAN, PUNYA KELUARGA .. PANDANGLAH IPDN DGN MATA YG LEBAR.

tulisan ini saya dedikasikan utnuk pak DILLI TRI WIBOWO, AP. MM lulusan STPDN tahun 1998 yg ditempatkan di pelosok jatim, serta pernah mengangkat nama Indonseia di ajang duta wisata pemuda tingkat Internasional, serta selamat atas wisuda magister manajemennya pak.

@atas gw

ya.. ya.. bla bla.. *pffttt…..

*sambil ngupil

K***** dgn Pmikira Loe yg Sok Pinter…………dasar p*****r loooooooooooooo…………..

cya: sensor yee mas.. behave pliz..

waw..keren banget fotony!!!foto yang cewek mana!!bagaiman sistematika perkuliahan di ipdn tahun 2008?apa masih tetap kayak yang lama?cz da yang pengen ni masuk k IPDN