Telaga Sunyi
It’s a family day!
Seharusnya hari ini kami pergi ke pantai. Tapi karena kondisi gelombang yang tinggi-tinggi sekali sampai lima meter, rencana batal! Maka sebagai penawar kerinduan kami akan laut dan gelombang, telaga jadi pilihan cadangan. Walau biru laut takkan pernah terganti. *halah*
Telaga itu bernama Telaga Bleder. Entah kenapa kata telaga selalu mengingatkanku pada seorang putri yang patah hati itu. Tenggelam di telaga sunyi bersama cintanya yang murni. *koesplus™* Telaga kecil ini terletak di Blabak Grabak, 20 menit dari Magelang. Pada kaki bukit Telomoyo. Cukup indah dengan tebing pada satu sisinya dan kabut tipis yang mengambang diatas permukaan air. Telaga ini memang sunyi. Hujan masih rintik saat kami tiba. Menyenangkan memandang titik hujan yang jatuh diatas air *juga pada kepala saya. Dan pucuk daun yang menggigil diatas sana. Apakah daun itu perlu dilindungi dengan kubah kaca seperti juga bunga si pangeran kecil? Tapi jangan bayangkan air luas terbentang, karena telaga ini tak begitu besar. Sarana pendukung danau ini sebagai tempat wisatapun sangat minimalis. Hanya ada satu tempat untuk berteduh, sehingga seluruh pengunjung harus berteduh pada sebuah dermaga kecil yang sama. Waktu kami datang, hanya ada sekitar 8 orang lain alias empat pasang. Perhatikan bold pada kata pasang.
Hal yang menyenangkan adalah karena kita bisa bermain perahu dayung disini. Dengan tigaribu rupiah, kamu bisa menyewa satu sampan sepuasnya. Asyik! Kami sering mengaku punya darah pelaut untuk menjelaskan kenapa kami suka pada laut, air dan perahu. Dayung dayung dayung. Tahukah kamu? Konon jika kamu makan tujuh laba-laba air selama tujuh tahun tujuh bulan dan tujuh hari, nantinya kamu akan bisa berjalan diatas air seperti mereka.
Mendayung ternyata melelahkan. Satu putaran saja kami sudah menyerah. Pulang? Not so fast my man. Masih ada perahu motor. Setelah meyakinkan bapak supir perahu bahwa papa bisa mengendalikan perhu motor itu, berjanji dengan kesungguhan hati bahwa kami tak akan melakukan sesuatu hingga parahu motor itu terbalik, kami boleh meminjam perahu motor. Jadilah mesin dengan kekuatan 15 pk itu membawa kami berkeliling. Mamah yang sudah ketakutan karena membayangkan kecepatannya akan menyamai speedboat langsung tenang saat tahu perahu itu bisa dikendarai pelan-pelan sambil menikmati hujan. Jangan biarkan cuaca menghalangimu, apalagi hanya rintik hujan. Kata papah, dia mengenang masa kecil waktu melarikan kapal motor aki-ku blusukan di sungai-sungai Kalimantan yang maisih jernih saat itu.
Demikianlah, family day minggu ini ditutup dengan makan soto kudus terenak di Magelang. Ada di Jalan Ikhlas. Sayang porsinya kecil, jadi jarang ada orang yang hanya makan satu mangkuk.
Saya makan dua.
Sudahkah Anda makan soto hari ini? *halah*
Ah, dan maaf karena tidak ada foto. Percayalah, saya sama menyesalnya seperti kamu. Dan sayang saya bukan Seno Gumira Ajidarma yang bisa mendeskripsikan hal semacam senja dengan sangat cantik seperti cerpen ini.



duh senengnya ada family day..