bizzare love triangle
Saya sedang dihantui rasa bersalah. Pasalnya, saya ketinggalan kereta. Semua kereta jurusan Jogja atau solo dari jakarta telah diberangkatkan pagi itu. Tentu kereta akan selalu ada, tapi saya harus menunggu sampai matahari miring ke arah barat. Padahal, malam itu adalah hari terakhir kawan saya ada di Jogja, hari dimana ia atur pesta perpisahannya. Rencananya setelah itu kami berdua akan adakan perpisahan sendiri. Hanya dia, saya dan 5 tahun persahabatan kami. Dia, sahabat terbaik saya.
Ah, masa-masa itu. Kami menjadi teman sejak dunia masih begitu sederhana. Kami menjadi teman dalam segala perbedaan, dia Cinta Fitri sedang saya lebih suka Pulp Fiction. Dia femme cantik manis anggun dan lembut, maka saya sering dituduh menjadi buchinya, dengan sifat sebaliknya. Saya bertindak konyol, dan dia akan tertawa. Dia menangis dan saya akan memeluknya. Saya kehilangan arah, dan dia katakan semua akan baik-baik saja. Kami menjadi teman, sampai dunia berevolusi dan menjadi. Hidup kami berbeda, namun saling ada.
Lalu kesalahan itu. Dia menuduh saya lebih memilih pacar saya. Karena dia tahu saya begitu menyayangi mas-mas chubby saya itu, lebih dari rasa suka saya pada pria manapun sebelumnya. Aku kecewa, katanya. Kamu tak bisa mengatur waktu dengan baik, yang kutahu cuma apapun yang terjadi kamu janji datang lalu kita akan melewatkan waktu bersama, untuk terakhir kalinya. Dan mengatur waktu adalah kelemahan saya, dia tahu itu. Thx for being not here, katanya lagi. Dia tak pernah semarah itu pada saya. Dan mungkin dia benar, mungkin memang saya terlalu asyik bersama pacar saya. Mungkin kami memang lupa waktu. Tapi sungguh, saya tidak bermaksud untuk menomorduakan dia.
Dan Jogja takkan pernah sama lagi tanpanya.
Epilog: Tapi pagi itu di depan tulisan *Pengantar sampai Disini* akhirnya kami berpelukan, menangis dan saling memaafkan. Selamat jalan Mbulku, kita PJJ saja. Bisa berhasil kok ^^ Sampai saat kita bertemu lagi.



salam perpisahan mbul.
jadilah mbul disana.