Melankolia Hujan

Beberapa hari ini hujan selalu turun. Mendung, rintik, lalu lepaslah beban yang dibawa awan hitam itu. Luruh. Bagi saya, hujan bukan sekedar tetesan air. Hujan adalah curahan kenangan yang datang dari langit. Setiap tetesnya punya kisah. Kali ini saya jadi teringat waktu kecil dulu. Saat itu hujan adalah mainan yang paling mengasyikkan. Tiap kali turun hujan cya kecil selalu berdoa agar hujan kali ini turun dengan lebat dan halilintar pergi menjauh. Karena jika begitu, mama akan mengizinkanku bermain-main bersama hujan. Melompat di genangan air, menari di bawah curahan air dari atap yang serasa air terjun. Kecipak-kecipuk. Jika hujan turun saat badan cya tak sehat, tak apa. Selalu ada setumpuk kertas yang siap disulap jadi kapal, mengarungi selokan sampai ujung sana.
Hujan selalu membawa kesejukan. Memberkahi ibu bumi. Menyenangkan melihat matahari yang mulai mengintip sehabis hujan bersama dengan bau tanah basah.
Jangan salahkan hujan jika banjir bersembunyi di punggungnya, badai ikut menari, atau zat asam dan polutan berbahaya menyaru dalam titik airnya. Juga jangan salahkan hujan jika dinginnya membuatmu lebih memilih bermalas-malas dalam hangat dinding kamar.
Sekarang saya jarang berhujan-hujan. Saya lebih suka memandangi rintik hujan. Mendengar kericiknya yang jatuh menimpa atap. Menyesap kopi panas sambil membaca buku, atau melayangkan angan kemana ia mau.
Itu yang sedang saya lakukan sore kemarin sepulang berkelana sepanjang siang. Lalu ponsel saya bergetar. Ah, kawan saya yang jadi juragan minyak di ibukota sana. “hujan.. nikmatnya minum kopi hangat” Reply. “sama, hujan marai jadi melankolis” Getar lagi. “Melankolis apaan sih?” *mikir* Apaan ya?
Hm.. ganti foto depan www.cyapila.com ah



hmm… saya suka hujan! ihihi… apa lagi ujan2an.
*loh?