Kenapa Leonardo?


Beberapa hari di Jakarta oh Jakarta, ternyata menyenangkan. Saya seperti alien yang terasing*. Menatap nanar laju kota, sekaligus menikmatinya. Demi pengalaman berkota yang lengkap dan dengan terpaksa, maka saya jelajahi kota ini dengan berbagai alat transportasinya. KRL (Jakarta-Bogor), transjakarta (transit dukuh atas), metromini (Rp. 2.000), taksi (harus pilih-pilih!) dan tentu saja bajaj (pengalaman pertama). Tapi alat transportasi terbaik pastilah memegang erat pinggangnya saat melaju diatas dua roda**.

Pada suatu hari libur yang cerah, ternyata sponsor saya disini tidak bisa menemani jalan-jalan karena harus lembur. Duh, cya sudah membayangkan hari itu (11/1) akan tidur saja seharian sampai pusing. Untungnya! Ada seorang mbak-mbak cantik dan baik hati yang sedang berusaha melupakan seseorang, bersedia memungut saya. Bukan hanya mengajak jalan-jalan seharian, dia juga mentraktir saya nonton pemutaran pentas perdana teater Koma yang berjudul Mengapa Leonardo? di TIM. senangnya! Sudah lama sekali cya tidak nonton teater, terakhir di Taman Budaya Jogja kira-kira bertahun-tahun lalu. Apalagi Teater Koma yang akan bermain, sebuah kelompok teater yang tak diragukan lagi reputasinya di dunia per-teateran tanah air. Pentas inipun istimewa karena bertepatan dengan peringatan 31 tahun kiprah Teater Koma.

leonardo1.jpg

Cerita dimulai dengan setting sebuah rumah sakit jiwa asuhan Dr Hopman (N.Riantiarno). Enam orang pasien berada disana dengan berbagai tingkah polah yang menunjukkan gejala penyakit jiwanya. Celetukan dan perilaku khas penderita gangguan jiwa itu mampu memancing gelak tawa ratusan penonton yang memenuhi PKJ-TIM. Ada Bu Risah yang selalu melontarkan lelucon, Profesor yang otaknya penuh dengan hafalan tak berguna, Pak Ndus yang mengalami delusi akan adanya sinar kosmis berkekuatan jahat, pak Miring yang terganggu secara katatonik sehingga selalu miring ke kanan dan Rebeka yang terobsesi untuk menari dengan sepatu mungil. Dr Hopman adalah seorang dokter klinis, maka ia percaya bahwa gangguan-gangguan yang dialami oleh pasiennya itu berasal dari sebab-sebab fisiologis.

Hal itu berubah saat Dr Da Silva (Cornelia Agatha) ingin melakukan riset pada para pasien untuk kepentingan tesisnya. Da silva ingin percaya bahwa gangguan jiwa yang dialami oleh para pasien mempunyai sebab psikologis, sehingga pasti berhasil disembuhkan dengan cara psikoterapi. Pasien yang menjadi percobaan pertamanya adalah Pak Martin. Mulanya Pak Martin justru bertambah parah saat selesai menjalani terapi. Gejala awalnya hilang dan Pak Martin justru menderita amnesia total. Memorinya kosong sama sekali. Dr Da Silva girang bukan main, dia berambisi memprogram ulang Pak Martin. Ia ingin memasukkan segala kualitas terbaik manusia pada Pak Martin sehingga tercipta suatu jenis manusia super. Menjadi seorang Leonardo zaman modern.

Niat ini tak disetujui oleh Dr Hopman yang beranggapan bahwa seorang manusia super tak dapat dianggap manusia jika tanpa perasaan. Seorang manusia yang utuh menurut Dr Hopman adalah manusia yang mampu menentukan nasibnya sendiri untuk mencapai kebahagiaan. Untuk mengalami tawa. Untuk menangis saat duka. Anggapan ini berbeda dengan keinginan Dr Da Silva yang tak henti mengajarkan berbagai hal yang terus diserap Pak Martin seperti spons. Da Silva bahkan menjanjikan pada Nyonya Martin (Ratna Riantiarno) seorang suami super yang juga pandai menebak nomor lotre. Pak Martin tiba-tiba menjadi tahu segalanya, termasuk mengutip karya-karya sastra Shakespeare.

Kemampuan Pak Martin menyerap semua hal ternyata diamanfaatkan oleh orang lain untuk mengajarkan kekerasan. Sampai pada akhirnya daya tampung spons itu habis, maka isinya meluap dan mengakibatkan hal yang tragis. Puisi Shakespeare yang dihafal pak Martin ternyata berujung dengan pembunuhan, maka Pak Martin yang tak punya perasaan mengamalkan puisi itu mentah-mentah. Ia membunuh Da Silva, yang sedang berusaha memperbaiki kesalahannya. Tak puas, ia juga membunuh beberapa rekannya. Suatu harga yang harus dibayar mahal untuk sebuah kenormalan. Usai membunuh, rupanya terjadi suatu *Eureka* dalam diri pak Martin hingga ia kembali pada keadaan sebelum semua kekisruhan itu terjadi. Semuanya kembali lagi pada sebuah hari yang biasa. Pengarang naskah aslinya, What About Leonardo, Edward Flisar ternyata hadir juga.

Menurut cya, bagus! Outstanding! Durasi yang sangat panjang tidak membuat saya ngantuk sama sekali. Para pemainnya bermain dengan sangat bagus. Dialog-dialog panjang penuh kutipan sastra diucapkan dengan sangat lancar dan menjiwai. Percakapannya juga sarat metafora tentang apa yang penting dalam kehidupan manusia. Pada akhirnya, manusia memang bukan robot. Pikiran dan perasaan haruslah berjalan seiring. Lalu kembalilah saya dan tika ke cumi dengan hati riang dan perut lapar. Dan selesailah postingan ini yang selesai ditulis 14 hari kemudian. ;))

*dari Englishman in New York
** syair lagu di album pertama Sheila on 7, lupa judulnya.
*** gambarnya pria vitruvian sajalah :p

Information and Links

Join the fray by commenting, tracking what others have to say, or linking to it from your blog.


Other Posts
Fotonya Bagus ya?
Secara Akyu Beautiful gitu loh!

Write a Comment

Take a moment to comment and tell us what you think. Some basic HTML is allowed for formatting.

biri-biri

Reader Comments

lah kalo si om-om gendut itu “sponsor”
brarti saya ‘promotor’ nya dong..
jiakakak…
cyaaaa…ngepelll!!!
*sambil suruh cya ngepel lante*

anjrit ini dialog cya, pacarnya dan homoannya pacarnya
*gelenggeleng*

jakarta oh jakarta …. jadi kangen pasar kebayoran :P

saya blum pernah nonton teater, jd tambah pengen :(

Yah udah pulang sih! ga ngrasain banjirnya dunk. hehehehhe…

ohh jakarta, aku ingin PULANG!!!

Fame…
Klo Bungky = sponsor
Ipung = Promotor
Aku apa donks ?
Hehehehe…minta jabatan niey :p

wah seru ya bisa nonton teater.. aku juga ingin.. tapi kalo harus nonton di jakarta… nope thx aku terlalu benci kota itu…….