kalimantantimur

Setelah sekian lama mengendap di satu tempat saja, kemarin akhirnya saya pergi jalan-jalan keluar pulau. Hanya mengenal sisi barat Pulau Borneo, akhirnya saya bisa melihat sisi timur pulau itu. Dari balik jendela bis, kulturnya nampak sama. Deretan rumah panggung rendah berlantai kayu di tepi sungai yang lebar seakan tak bertepi. Jalan kecil tak terlalu mulus tapi cukup nyaman menembus hutan muda dengan pohon-pohon kurus berdaun lebat. Bedanya, di Kalimantan Barat beberapa bagian hutan nampak botak karena penebangan hutan entah ilegal entah resmi, sama saja buruk bagi kesehatan bumi. Di Kalimantan Timur, hutan dibotaki untuk menggali. Entah batubara entah minyak atau apalah, sama saja buruk bagi kesehatan bumi.
Saya melewati sebuah daerah yang disebut-sebut sebagai kabupaten paling kaya di Indonesia. Definisi kaya, sepertinya adalah daerah dengan pendapatan asli daerah paling besar. Bukan dengan tingkat kesejahteraan masyarakat yang paling tinggi, karena apa yang saya lihat sepintas lalu tidak jauh berbeda dengan apa yang saya lihat di daerah lain yang tidak kaya. Sanitasi buruk, kekurangan pasokan energi dan pemukiman rumah petak kecil-kecil yang nampak sakit. Entahlah, ini hanya pandangan mata seorang yang melintas saja.
Mereka membangun sebuah stadion seharga 600 milyar rupiah untuk menyambut sebuah acara olahraga nasional. Juga untuk memajukan olahraga nasional dengan menyediakan sarana. Tapi siapa yang akan berolahraga disana? Siapa yang akan merawatnya ketika acara selesai dan lampu-lampu dipadamkan? Menurutku untuk membangun sebuah kemajuan, diperlukan sumber daya manusia. Apa gunanya membangun kompleks raksasa tanpa generasi yang bisa dilatih didalamnya? Alat, bisa dicari sambil menjalani proses belajar itu. Misalnya Irak yang bisa memenangkan Piala Asia meski berlatih dalam ancaman bom bunuh diri. 600 milyar yang digunakan di kota kabupaten itu, juga milyar-milyar lain yang digunakan di kota sekelilingnya, terlalu berlebihan untuk membuat barang-sekali-pakai. Belum lagi kemungkinan bahwa stadion mahal itu mungkin tak akan selesai tepat pada waktunya. Ah, semoga ini hanya kekhawatiran yang mengada-ada.
Terbang bolak balik dengan garuda dan menginap di hotel berbintang juga terasa seperti sebuah kemewahan yang tidak perlu.
Hey, tapi bertemu Ririn dan Bunda sangat menyenangkan, dan kepiting tarakan itu sungguh enak! :p



hmm… 600 milyar, hebat sekali!
negara dunia ketiga ternyata bisa membelanjakan uang segitu untuk membuat barang-sekali-pakai.
smoga bisa mandatangkan banyak manfaat saja deh utk masy di sekitarnya.