Mudik Kepagian
Berita terakhir telah kulempar menuju keranjang dan hupp, saya
langsung mencegat ojek. Dari depkominfo ke stasiun senen Rp 10 ribu
dan tukang ojeknya koboi sekali. Aduh pak, hati-hati. Saya baru 23
tahun!
Senja utama telah menanti. im going home!
Stasiun Tugu, Jalan Mangkubumi, Nol Kilometer, Jalan Kaliurang,
Sleman, boulevard UII, alun-alun Magelang, gunung tidar, mbayeman,
langit biru, udara sejuk, jalan bebas hambatan. Im home! Setidaknya
selama 36 jam saya akan bersama kalian, tempat yang kusebut rumah.
Meski perjalanan memakan 20 jam terlipat di kereta tapi saya akan
suka, terutama separo bagian pertama.
mungkin perjalanan pulang -sebentar- itu akan memberikan jawaban bagi
keresahanku selama ini. Semoga aku bisa melihat jernih setelah keluar
dari kabut asap. Tak lupa aku akan mengambil persediaan rasa nyaman
sebanyak-banyaknya untuk bekal hidup di ibukota.
aku akan melaju bersama angin. dan berharap yang bukan diriku tersapu
dan jatuh. Hingga akhirnya hanya ada aku yang benar-benar aku.
Entahlah, yang pasti ini adalah mudik yang kepagian dua minggu. Dua
minggu lagi, aku akan menikmati lebaran pertama jauh dari
kampunghalaman. First experience is always special.
*ditulis selepas jatinegara. Jakarta belum sepenuhnya muspra.
— Famega Syavira Putri,
-=Nothing is impossible but miracles take time [Fatih Terim]=-



I love a place called home (too)