Papa saya merantau dari kota pelabuhan kecil di pesisir barat Kalimantan sejak 1978. Tujuannya, kota pelajar dibawah pimpinan raja sungguhan di jawa sebelah selatan. Dengan kapal kayu, perjalanan itu memakan waktu satu sampai dua minggu. Tergantung kebaikan hati dewa laut.
Dia lalu bersekolah di sebuah sekolah menengah jurusan teknik. Pak pos yang membawakan wesel, kadang tak datang sesuai jadwal. Uang hanya cukup untuk hidup prihatin. Pulang setiap IdulFitri adalah kemewahan.
Maka setiap hari raya -dan hari lain juga- dia ditampung di rumah seorang kawannya yang tinggal di desa khas jawa dengan sawah papringan amben dan blumbang. Seisi rumah menyambutnya dengan keramahan khas Jogja yang terkenal itu.
Dari desa itu papa saya banyak belajar mengenai falsafah hidup jawa yang dia tularkan pada anak-anaknya selain cerita-cerita melayu yang selalu berakhir dengan si tokoh utama jadi batu. “Bapakmu iku jadi luwih jowo dari wong jowo asli,” ucap kawannya itu.
Lulus kuliah, papa saya merantau ke Jakarta. Kawannya dan dua adiknya merantau ke Tangerang dan menetap disana. Nah, saat kesepian di Jakarta waktu lebaran kemarin, saya berkunjung ke kediaman kawan papa saya ini.
Alasannya praktis saja, saya hanya libur satu hari dan tidak ingin melewatkan hari raya sendirian. Kalau itu terjadi, wadoh pasti bakalan nangis. “Setidaknya saya bisa
makan ketupat dan opor,” begitu pikir saya, si oportunis.
Ternyata waktu saya tiba di rumah om Surip, rasanya seperti sampai di rumah. Mereka menyambut saya seperti menyambut si anak hilang yang pulang. Padahal kami bahkan bukan saudara.
Lebaran pertama saya jauh dari keluarga jadi tidak berat lagi. IdulFitri bagiku memang tak lepas dari ritual. Ritual yang mendamaikan hati untuk bekal bagi jiwa, termasuk lebaran saya kali ini.
Selamat Hari Raya Idul Fitri!
Kita saling memaafkan ya kawan?
Selamat Idul Fitri juga, salam kenal dari daku
Selamat idul fitri. Salam kenal dariku.
Lembah tidar… kenangan tersendiri. Tiga tahun disana.
sama sama ya cya
selamat idulfitri, maafkan saya
ah ya, salam kenal
wah kasian kamu nak…
Halo tetangga! Maaf lahir & batin yaks? Moga2 dirimu Lebaran tahun depan bisa ketemu sama keluarga
ah! tulisan yang mengharukan!
selamat idul fithri juga….
salam kenal.
tahu blog ini dari temen nih
papahmu hebat me
sehebat papaku juga.