Saya menulis beberapa profil atlet, baiklah saya kumpulkan disini dalam versi aslinya.

Famega Syavira
__________________________________________________________________________________________

Olahraga: Thursday, 08/May/2008 21:18:28

Hendrawan
Berjaya dalam ketidakadilan.

Sebagian besar dewa bulutangkis Indonesia adalah warganegara keturunan tionghoa. Sebut saja Christian Hadinata, Lius Pongoh, Susi Susanti, Imelda Wiguna dan Liem Swie King. Hendrawan, juga adalah keturunan tionghoa. Tapi jangan tanya soal nasionalisme padanya. Tiga kali ia membela Indonesia dalam perebutan Piala Thomas, tiga kali pula piala bergengsi itu dapat direbut.

Hendrawan memulai karirnya di Piala Thomas dengan menjadi tunggal putra kedua pada tahun 1998. Hongkong mejadi tempat pertarungan sengit Indonesia dan Malaysia yang lalu dimenangkan oleh Hendrawan dan rekan-rekannya dengan skor 3-2. Peningkatan prestasi membuat Hendrawan dipercaya sebagai tunggal pertama kejuaraan Piala Thomas tahun 2000 di Kuala Lumpur, Malaysia. China ditekuk tanpa perlawanan dengan skor 3-0.

Perebutan Piala Thomas tahun 2002 adalah saat-saat yang paling dikenangnya. “Piala Thomas 2002 adalah saat yang paling berkesan,” ujarnya ketika ditemui Tempo saat melatih tim Thomas 2008 di Istora Senayan (8/5). Bukan hanya karena Indonesia berhasil menang, namun juga karena kesulitan yang harus dilaluinya untuk dapat membela nama baik Indonesia di dunia bulutangkis internasional.

Kepergiannya ke Guangzhou, China, sempat terhalang karena masalah Surat Keterangan Bukti Kewarganegaraan (SKBRI). Ketika itu warga keturunan harus menunjukkan SKBRI ketika mengurus berbagai dokumen resmi, termasuk visa. Hendrawan dianggap sebagai orang asing yang harus membuktikan kewarganegaraannya. Padahal ayah dan ibunya juga warga negara Indonesia yang lahir dan menetap di negeri ini. “Sungguh tidak adil,” katanya sambil memberikan isyarat pada Simon Santosa untuk melompat lebih tinggi.

Sebelumnya ia tak pernah bermasalah dengan SKBRI. Pasalnya, ia menggunakan SKBRI dengan status anak dari kedua orang tuanya. Pada tahun 2001, ia menikah. Karena itu Hendrawan harus punya SKBRI sendiri. Ia mengaku enggan mengurus selembar surat itu. “Saya anggap itu tak perlu, karena saya merasa Indonesia sungguh,” jelasnya.

Keinginannya membela Indonesia memaksanya melalui birokrasi rumit untuk mendapatkan selembar surat sakti tersebut. Permohonanpun diajukan pada Agustus 2001. Tunggu punya tunggu, hingga menjelang keberangkatannya tim Thomas pada April 2002, SKBRI tak kunjung jadi. Delapan bulan sudah ia menunggu dalam ketidakpastian.

“Saya ingin membela nama Indonesia kok malah dihalang-halangi,” keluhnya waktu itu. Untunglah, keluhan itu didengarkan oleh presiden Indonesia saat itu, Megawati Soekarnoputri. Perintah presiden rupanya obat manjur untuk meluruskan keruwetan birokrasi. Dalam satu hari SKBRI itu jadilah.

Tim Thomas 2002 genap sepuluh, merekapun berangkat ke Guangzhou. Poin demi poin didapat Indonesia, sampai skor menjadi 2-2. Pertarungan penentu dimainkannya melawan Roslin Hasyim dari Malaysia. Nasib Indonesia berada di tangannya. Dan harapan itu tidak sia-sia. Indonesia menang 3-2, Piala Thomas diraih lima kali berturut-turut sejak 1994.

Setelah itu, Hendrawan memutuskan gantung raket. Ia merasa kiprahnya sebagai atlet sudah cukup. Kecintaannya terhadap bulutangkis disalurkannya dengan menjadi pelatih tim putri. Ayah dua anak itu sempat berpindah jalur sebentar, dengan bekerja di sebuah perusahaan. Namun lapangan hijau tetap melambai-lambai di pelupuk matanya.

Ia kembali menjadi bagian Piala Thomas, kali ini sebagai pelatih. Sony Dwi Kurniawan, Simon Santoso dan Tommy Sugiarto dipercayakan dalam asuhannya. Tentu saja juara dunia 2001 ini berharap Indonesia dapat mengulang kesuksesannya, enam tahun lalu.

Nama: Hendrawan
Tempat tanggal lahir: Malang, 27 Juni 1972
Nama istri: Silvia Anggraeni
Nama anak: Josephine Sevilla (7 tahun)
Alexander Thomas (6 tahun)

Prestasi:
1998 Runner up Asian Games, Bangkok
1998 Juara Singapura Terbuka
2000 Medali perak Olimpiade Sidney 2000
2000 Runner up Jepang Terbuka
2001 Juara Kejuaraan Dunia
2001 Juara Piala Sudirman

[Famega Syavira]
______________________________________________________________________

Olahraga: Thursday, 08/May/2008 00:24:49

Imelda Wiguna
“Rekor yang belum terpecahkan.”

Jakarta, 1975. “Ojo kuwatir Mbak Mien,” ujar Imelda Wiguna mantap. Ia berusaha menenangkan Minarni Sudaryanto yang menangis tersedu-sedu setelah kalah dari pasangan mumpuni saat itu, Margaret Beck/Gillian Gilks. Harapan meraih piala Uber untuk pertama kalinya, tertumpu pada hasil pertandingan selanjutnya. Kala itu, Imelda adalah harapan.

“Waktu itu rasanya saya yakin akan menang,” kenangnya. Harapan ribuan orang yang menyemut sampai ke pinggir-pinggir lapangan itu tidak sia-sia. Dua pertandingan selanjutnya dimenangkan dengan gemilang. Kemenangan itulah yang mengantarkan Indonesia merebut Piala Uber untuk pertama kalinya. Dukungan penonton diakuinya sangat berpengaruh dalam keberhasilan itu.

“Suasana saat itu masing terbayang jelas sampai saat ini,” ujarnya dengan mata menerawang. Suasana meriah penyambutan masyarakatlah yang selalu membuatnya terkenang. Bayaran secara materi menjadi tidak penting lagi. Penghargaan dari masyarakat saja sudah membuatnya merasa berharga. Ia dan kawan-kawannya sudah luar biasa gembira menerima kain dan sepotong pin dari ibu negara kala itu. Pin itu masih disimpannya sampai sekarang.

Mungkin berkat fisiknya yang terjaga, dalam usia 57 tahun Imelda terlihat masih sangat bugar dan cantik. Atlet yang memperkuat Indonesia dalam lima pertandingan piala Uber ini tetap bersemangat saat ditemui Tempo di sebuah kafe, meski sambil mengenakan perban di leher. Bekas operasi pada pertengahan April. Latihan yang tidak benar saat menjadi atlit dulu rupanya melukai syaraf lehernya. “Dulu kami tidak tahu jenis latihan fisik macam apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan,” ujarnya. Ia dan kawan-kawannya dulu sering berlomba memacu fisik sampai batas tertinggi.

Imelda mengaku punya sifat yang tidak pernah mau kalah. Jangankan dengan lawan di lapangan, saat berlatih dengan temanpun ia selalu berusaha maksimal. “Persaingan saat latihan sering membuat kami diem-dieman sampai di asrama,” jelasnya sambil tergelak.

Pebulutangkis yang mengaku paling cocok dipasangkan dengan Verawaty Vajrin ini belajar banyak dari pengalamannya menjadi pemain ganda. Antara lain belajar untuk tidak menimpakan kesalahan pada orang lain. Menurutnya pemain ganda akan sukses bila saling mendukung. “Sampai larut malam saya selalu berdiskusi dengan pasangan main saya, saling menilai kelemahan satu sama lain”, kenangnya. Ini adalah caranya untuk menjaga kekompakan.

“Pemain bulutangkis juga tak boleh punya mental mudah menyerah,” tegasnya. Lawan yang dulu paling ditakutinya justru Jepang yang tidak bagus secara teknik. Pasalnya, pemain Jepang dikenal pantang menyerah. Menghadapi lawan macam ini, kadang ia merasa kalah dalam perang mental. Padahal, mental adalah hal terpenting menurutnya.

Pada tahun 1986, istri Ferry H Kurniawan ini memutuskan untuk berhenti menjadi atlet. Saat itu wanita kelahiran Slawi, 12 Oktober 1951 ini sudah punya satu anak. Meski tak lagi jadi atlit, ibu dua anak ini merasa berhutang budi pada PBSI dan masyarakat yang telah mendukungnya. “Saya menjadi seperti sekarang ini berkat PBSI,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Untuk membalas budi, ia sempat aktif di PBSI menjadi pelatih, lalu aktif menjadi pencari bakat-bakat baru bulutangkis.

Empat tahun berkeliling ke pelosok negeri, rupanya ia merasa kerja kerasnya tak dihargai. Dua bulan lalu Cik Im, begitu ia biasa dipanggil, resmi mengundurkan diri. “Saya memutuskan untuk menjadi pelayan Tuhan saja, lebih pasti,” jelasnya pelan. Imelda kini aktif berkeliling memberikan pelayanan ibadah.

Meski demikian niatnya memajukan bulutangkis tetap membara. “Saya membantu program pengadaan lapangan bulutangkis di daerah-daerah”, jelasnya. Ia mengenang kecintaan akan bulutangkisnya yang tumbuh ketika bermain di lapangan outdoor, puluhan tahun lalu.

Imelda Wiguna adalah salah satu dari sedikit atlet yang dikenal serba bisa. Bermain ganda putri, ia juara. Bermain ganda campuran juga bukan masalah. Hingga kini masih ada obsesi yang ia simpan. Peraih emas Asian Games 1978 ini ingin agar ada atlet muda Indonesia yang menyamai prestasinya saat menyabet juara ganda campuran All England. Ia meraihnya bersama Christian Hadinata pada tahun 1979, dan belum terpecahkan hingga saat ini.

Untuk itu ia menitipkan pesan untuk para atlet muda. “Kerjakan saja bagianmu sebaik-baiknya dengan latihan teknik, fisik dan otak. Selanjutnya percayakan pada kuasa Tuhan,” ujarnya menutup pembicaraan.

[Famega Syavira]
___________________________________________________________________

Olahraga: Friday, 25/Apr/2008 21:21:05

Maria Kristin Yulianti
“Kita lihat saja nanti.”

Merebut kembali Piala Uber adalah cita-cita Indonesia, tak terkecuali bagi Maria. Memperbaiki prestasi tim putri adalah mimpi yang sangat ingin diwujudkannya. Memegang gelar sebagai pebulutangkis putri nomor satu Indonesia menjadikan harapan banyak orang terbebankan pada dirinya.

Tahun ini bukan kesempatan pertama bagi Maria untuk membela Indonesia dalam tim Uber. Pada kesempatan sebelumnya, ia dan timnya gagal menguasai keadaan. Mereka pulang dengan tangan hampa. Meski demikian gadis kelahiran kota Tuban ini tak hendak kecewa, apalagi putus asa.

Kali ini ia justru bertanding lagi, sebagai pemain tunggal putri pertama. Tantangan ini diterima tanpa gentar. “Ini adalah tanggung jawab besar saya untuk negara,” ujar pengagum Susi Susanti ini mantap.

Peluh masih menetes di wajahnya yang tirus. Usai menempa teknik permainan di lapangan hijau, ia masih harus memperkuat ketahanan fisik bersama pelatih dari Australia, Jason Kurfurst. Lelah? “Saya sih sudah biasa,” jelasnya disela-sela latihan di Cipayung Kamis 24/4 lalu.

Maria Kristin Yulianti, dibesarkan ditengah keluarga yang mencintai bulutangkis. Ayahnya, adalah seorang pelatih bagi anak-anak yang ingin belajar memainkan raket. Ia dan adiknya telah akrab dengan lapangan sejak masih sangat muda. Umur 11 tahun Maria kecil sudah masuk asrama khusus atlit. Ya, prestasi bulutangkis Maria memang terbangun dari hasil latihan keras sepanjang hidup.

Tahun 2002, wakil Jawa Tengah dalam PON itu mengemasi barangnya untuk tinggal di Pelatnas Bulutangkis, Cipayung. Sejak itulah kiprahnya di arena bulutangkis mulai bercahaya. Berbagai medali disabetnya, termasuk medali emas pada Sea Games Korat 2007. Pelan tapi pasti pebulutangkis kelahiran 25 Juni 1985 ini mencatatkan diri dalam peringkat dunia. Saat ini ia bercokol di peringkat 24.

Maria mengakui bahwa peringkatnya sekarang turun jauh dari pencapaiannya tahun lalu. Pada 2007 ia sempat singgah pada posisi 14 dunia. “Sejak akhir tahun lalu performa saya menurun,” katanya mengakui. Cedera pada kakinya ia sebut sebagai salah satu faktor penyebab kemunduran performanya.

Beberapa tahun lalu usai latihan, Maria merasakan nyeri luar biasa pada lutut kanannya. Padahal ia tidak merasa pernah terjatuh atau terkilir. Ternyata, sendi lututnya mengalami gangguan. Terapi telah dilakukan untuk menjadikan Maria sehat kembali seperti semula, namun belum berhasil.

Saat pertandingan di Dutch Open 2006, nyeri itu mengalahkannya sampai tak dapat menggerakkan kaki. Beruntung giliran Indonesia bertanding telah usai. Hari-hari selanjutnya ia habiskan hanya dengan duduk mengamati kawan-kawannya berlatih.

Berbagai terapi telah dijalaninya, namun rasa sakit itu tak kunjung hilang. “Saat rasa nyeri itu datang saat bertanding, saya berusaha untuk menumpukan berat badan pada kaki kanan,” jelasnya.

Meski begitu, gadis penggemar makanan laut itu tak ingin menjadikan cederanya sebagai alasan. Ia juga mengaku tidak takut jika sakitnya bertambah parah. “Masa bodoh. Tetap saya paksakan bertanding,” katanya sambil mengelus kakinya.

Selain cedera yang menghambat, ia menilai kematangan dirinya masih kurang. Hal ini menimbulkan keuntungan untuk pihak lawan yang menjadi sering mengambil alih kendali permainan.

Tak hanya paham akan kekurangannya, Maria juga telah melihat kelebihan yang dapat ia andalkan. Pukulan-pukulan tajamnya adalah senjata andalan ketika menghadapi lawan. Gadis itu juga menilai permainannya unggul dalam hal pertahanan.

Prestasi tim putri yang dianggap lebih rendah tim putra justru dianggapnya kelebihan. “Orang tak mengharapkan kami juara. Saya jadi merasa tidak terbebani dan bisa bermain dengan santai,” jelasnya. Maria merasa dirinya dapat bermain dengan maksimal saat merasa tak terbebani.

Menjadi pemain putri terbaik di negara ini juga tak dirasakannya sebagai beban. Gadis rendah hati ini tak merasa punya nama besar. “Saya hanya lebih beruntung dibanding teman-teman lain,” katanya sambil tersenyum.

Ia mencoba menganalisis kekuatan tim Uber. “Secara logika, sulit untuk menang,” tegasnya. Walaupun begitu ia optimis mengalahkan Belanda. Jepang juga tak dianggapnya lawan yang terlalu tangguh karena ia sudah sering bertemu dengan pebulutangkis negeri sakura itu. Jika Jepang dan Belanda dapat ditaklukkan, Indonesia dapat menjadi juara grup. Setelah jadi juara grup?

“Kita lihat saja nanti,” tantangnya mengakhiri pembicaraan.

[Famega Syavira]
_________________________________________________________________________

Olahraga: Thursday, 17/Apr/2008 18:52:56

Rini Budiarti
“Kodrat saya menjadi ibu.”

Sejak tahun 2004, Jemi telah mengajak Rini Budiarti untuk menikah. Ketika itu Rini enggan mengiyakan lamaran kekasihnya itu. “Setiap kali diajak menikah, saya selalu menangis karena enggan,” kenang atlit lari jarak jauh menengah andalan Indonesia itu.

Rupanya perempuan asal Gunung Kidul itu takut, pernikahan akan menghambat larinya. Ketika itu ia baru berusia 21 tahun. Masih muda dan masih ingin mencapai banyak hal. Dalam bayangannya, pernikahan akan merenggut semuanya. “Saya takut tidak bisa ngapa-ngapain lagi setelah menikah,” jelas peraih emas Pekan Olahraga Mahasiswa 2007 ini. Padahal jalannya menuju prestasi masih merentang sejauh kakinya dapat berlari.

Kultur patriarki yang kental di negara ini kadang memang masih membatasi ruang gerak perempuan, apalagi yang telah menjadi istri. Beruntung, Jemi Utiarahcman, yang kini jadi suaminya, mau mengerti profesi Rini. “Silahkan berlari sampai kamu tak sanggup lagi,” ujar Rini menirukan suaminya.

Bukan sebentar waktu yang dihabiskan untuk meyakinkan sarjana ilmu politik ini. Butuh tiga tahun bagi Jemi untuk membuktikan pada Rini bahwa ia dapat memegang janji untuk membiarkan Rini terus berlari. Ajakan pernikahan itu baru disetujui Rini awal 2007. Takut pujaannya berubah pikiran, Jemi meminta upacara pernikahan dilaksanakan segera, tepatnya pada 29 April 2007.

“Kak Jemi berhasil meyakinkan saya,” kata penggemar nasi goreng ini dengan mata berbinar. Pasangan ini telah membuat komitmen untuk tidak saling mengekang. Masing-masing diizinkan untuk menggali potensi secara maksimal untuk mengaktualisasikan dirinya. Aktualisasi diri, menurut Abraham Maslow, adalah puncak dari kebutuhan manusia. Dengan mengaktualisasikan diri, manusia dapat mencapai performa maksimalnya.

Benarlah, setelah menikah prestasi Rini justru meningkat. Dua perak Sea Games Thailand 2007 disabetnya. Rekor nasional dipecahkannya dengan catatan waktu 4 menit 18 detik. Dengan yakin pelari 1.500 meter ini menjelaskan bahwa perasaannya menjadi tenang setelah menikah. Pikirannya tidak terganggu dilema antara mengiyakan atau menolak lamaran Jemi. Fokusnya hanya satu: meraih medali.

Suaminya yang mantan atlet atletik ini juga menjadi semacam konsultan bagi latihan perempuan yang kini menjadi atlet wakil Kalimantan Timur ini. Jemi kerap berdiskusi dengan pelatih fisik Rini, Robert Ballard, mengenai sistem latihannya. Keberadaan suaminya sebagai tempat berbagi pikiran juga dirasakan Rini sebagai sebuah kemewahan yang terlambat datang. “Saya jadi menyesal dulu tidak mau diajak menikah cepat-cepat,” katanya sambil tergelak.

Rini menilai dirinya sebagai sosok yang selalu membutuhkan dorongan dari orang-orang terdekat. Ia mengaku butuh untuk selalu dikuatkan, terutama pada saat ia tengah merasa kurang percaya diri. “Menikah membuat saya punya tempat bersandar,” katanya pada Tempo dengan ceria.

Pasangan yang akan merayakan perayaan tahun pertama pernikahan ini tinggal terpisah. Rini tinggal di Hotel Atlet Century, sedang suaminya tinggal di rumah orang tuanya. Rumah mereka di Tanjung Barat, Jakarta, dibiarkan kosong.

Pelari yang mulai berlatih sejak kelas 5 SD ini tak sempat mencicipi kehidupan rumah tangga seperti orang-orang pada umumnya. Kadang ia merasa kasihan juga pada suaminya. “Kasihan, tidak ada yang ngurusin,” jelasnya. Maka saat libur ia menyempatkan diri untuk belajar memasak makanan kesukaan suaminya, ikan sajela, makanan khas Gorontalo.

Keharusan Rini untuk berlatih di Pelatnas membuatnya tak bisa pulang kerumah sesuka hati. Mereka hanya dapat berkumpul setiap akhir minggu. “Itu resiko yang harus saya tanggung,” ujarnya mantap.

Hari-harinya dihabiskan untuk latihan. Pagi dan sore. Rekor nasional terakhir lari 1500 meter dipegangnya dengan catatan waktu 4 menit 18 detik. Ia masih harus meraih waktu lebih cepat lagi.

Targetnya adalah berlaga di Olimpiade Beijing 2008. Ia ingin menghiasi sejarah hidupnya sebagai seorang pelari dengan medali pesta olahraga paling bergengsi sedunia itu. Setelah itu ia berencana istirahat.

“Setelah Olimpiade, saya akan mendahulukan program membuat anak,” katanya malu-malu. Rupanya kebebasan yang dimiliki tidak menghilangkan naluri keibuannya. Ia memimpikan untuk meramaikan rumahnya dengan tangis bayi.

Jika harus memilih antara atletik dan menjadi ibu, ia tetap memilih tugas agung perempuan, mengantarkan seorang anak ke dunia. “Itu sudah kodrat saya menjadi ibu,’ tegasnya. Namun setelah melahirkan ia ingin tetap berada di dunia atletik. Atletik sudah menjadi bagian dari hidupnya yang tak mungkin lagi dilupakan.

“Tapi nanti anak saya jangan jadi atlit lari. Kasihan, capek,” katanya sambil tertawa.

[Famega Syavira]
____________________________________________________________________

Olahraga: Thursday, 10/Apr/2008 21:23:33

Aprilia Yuswandari
“Juara dunia dua tahun lagi.”

Anak kecil itu menatap teman-teman sebayanya yang sedang bermain-main dengan raket. Ia senang melihat lincah bulu-bulu angsa yang dilempar-lemparkan kian kemari. Sang ayah rupanya memperhatikan sorot mata anaknya yang berbinar kala menyaksikan pertandingan bulu tangkis. Pak Zazuli lalu mendaftarkan sang anak untuk ikut dalam klub bulutangkis.

Aprilia Yuswandarini, berlatih bulutangkis sejak umur tujuh tahun. Saat itu dia masih duduk di kelas dua Sekolah Dasar Pundung 2 Bantul. Mulanya ia tak berniat untuk menjadikan bulutangkis sebagai bagian dari kehidupan. Ikut klub bulutangkis hanya dilakoninya sebagai pemuas rasa penasaran sembari mengisi waktu luang.

Seperti anak-anak yang lain, saat kecil Aprilia bercita-cita ingin menjadi dokter. Namun rasa sukanya terhadap bulutangkis makin menguat, membuatnya melupakan cita-cita untuk mengobati orang sakit.

Turnamen demi turnamen junior yang diikuti oleh gadis berwajah manis itu membuahkan hasil yang tidak mengecewakan. Menjadi bintang bulutangkis lokal mengantarkannya pada tawaran untuk berlatih di Pusdiklat Bulu tangkis Semen Gresik. Ketika itu gadis yang mengidolakan Susi Susanti ini sudah duduk di kelas dua sekolah menengah pertama. Tak terasa sudah enam tahun Lia, demikian dia biasa dipanggil, menggeluti dunia bulutangkis. Gambaran masa depan sebagai seorang pebulutangkis makin jelas terbayang di matanya.

Pebulutangkis tunggal ini dihadapkan pada dua pilihan. Menekuni bulutangkis secara serius dengan resiko berpisah dengan kedua orangtuanya, atau tetap bersama orang tuanya dan melewatkan kesempatan baik yang telah dinanti-nantikannya. Tentu saja ia memilih untuk menekuni bulutangkis, dan pindah ke Gresik.

Beberapa tahun menimba ilmu di Gresik, prestasinya rupanya terus meningkat. Berbagai gelar juara disabetnya, antara lain Pemenang Kejuaraan Dunia Bulutangkis Junior di Jerman dan runner up Kejuaraan Bulutangkis Junior di Belanda. Lolos seleksi Pelatnas membawanya langsung menuju Pelatnas Bulutangkis di Cipayung, Jakarta, pada tahun 2006.

Lia dikenal sebagai pribadi yang ceria oleh kawan-kawannya di Cipayung. Ia gemar melontarkan permainan-permainan yang mengundang tawa di sela-sela latihan. Saat sesi pemotretan oleh fotografer Tempo pun, ia tak henti-hentinya bercanda dengan kawan-kawannya. Gadis penggemar gulai kambing ini juga masih berhubungan baik dengan lawan mainnya saat bertanding di luar negeri. “Kami sering saling menyapa di Friendster”, jelasnya.

Ia bertekad akan terus bermain bulutangkis sampai tak sanggup lagi bermain. Ia mengaku sangat ingin menjadi juara dunia bulutangkis. “Saya akan jadi juara dunia dua tahun lagi,” tekadnya yakin saat ditanya kapan ia akan mewujudkan cita-citanya itu.

Untuk itu ia memacu dirinya untuk giat berlatih meskipun kadang-kadang bosan. “Kadang-kadang sampai lebih dari bosan,” ujarnya. Saat bosan itu ia berusaha mengalihkan perhatian dan waktunya untuk hal lain di luar latihan bulutangkis. Membaca komik adalah kegiatan yang paling disukainya. Ia mengikuti sepak terjang Conan si detektif karangan Aoyama Gosho setiap serinya. Setelah puas membaca, kembalilah ia pada lapangan dan raket. Pada PON Kalimantan Timur besok, penggemar Harry Potter ini akan mewakili Jawa Timur.

Meski jam terbangnya tinggi, pebulutangkis dengan berat 57 kg ini mengaku masih sering merasa demam panggung. “Apalagi kalau lawannya sebaya dengan saya”, akunya. Lawan yang lebih tua justru membuatnya lebih tenang dalam bermain karena merasa permainannya tidak terbebani.

Kemauan yang keras tergambar pada dirinya. Ketika ditemui Tempo, Lia sedang mengalami cidera pada lengan kanannya. Lengannya memerah dan bengkak. Meski cedera saat berlatih, ia tak kapok. Latihan hari itu tetap dijalaninya meski dengan porsi yang dikurangi. “Agak sakit kalau digerakkan, tapi masih bisa ditahan,” katanya mantap. Usai latihan, ia mengompres sendiri lengannya dengan kantung es.

Cidera ini pula yang membuatnya gagal membela Indonesia sebagai tunggal keempat pada kejuaraan Piala Uber yang akan digelar pada bulan Mei mendatang. Ia tidak dapat mengikuti seleksi. “Saya kecewa, tapi mau bagaimana lagi,” ujarnya pasrah. Saat ini ia harus berkonsentrasi pada penyembuhan cideranya sebelum dapat meniti jalannya menuju juara dunia.

Nama: Aprilia Yuswandari
Nama panggilan: Lia
Tempat, tanggal lahir: Bantul. 24 April 1988
Nama ayah: Zazuli
Nama ibu: Sri Sukarmi
Alamat rumah: Kradenan, Girirejo, Imogiri, Bantul
Agama: Islam
E-Mail dan Friendster: oenyil_88@yahoo.com

[Famega Syavira]
__________________________________________________________________________

Olahraga: Friday, 28/Mar/2008 11:30:49

Agustina Bawelle
“Lapangan adalah pacar pertamaku.”

Lima tahun lalu Agustina Bawelle pergi meninggalkan Tahuna, kota kelahirannya. Ia pergi jauh menyeberangi lautan untuk mengejar cita-citanya sebagai atlet atletik. Tahuna adalah kota kecil di Kepulauan Sangihe Talaud, jauh di ujung utara Indonesia. Gadis 12 tahun itu harus hidup sendiri, terpisah dengan keluarganya sejauh setengah hari perjalanan laut.

Agustina Bawelle, adalah atlit junior lari 100m gawang. Bintang baru atletik ini biasa dipanggil Boy oleh teman-temannya sesama atlit. “Karena saya tomboy,” katanya sambil tertawa. Ia memang bergaya tomboy dengan rambutnya yang dipotong dengan gaya laki-laki.

Sejak Sekolah Menengah Pertama ia telah dibina di Pusat Pembinaan dan Latihan Pelajar, Manado. Prestasinya di kejuaraan atletik daerah rupanya membuat banyak mata meliriknya.

Tak terkecuali pelatih sprinter nasional Ludmilla Kondratyeva yang menemukan bakat Boysaat mengadakan pencarian bakat di Manado dan Minahasa. Pelatih asal Rusia itu meminta Boy untuk segera mengikuti Pelatnas. Maka terbanglah gadis kelahiran 7 Agustus 1991 itu ke Jakarta.

Sejak kecil ia memang menggemari atletik. Ia betah berjam-jam mengamati televisi yang menayangkan para altit atletik berlari. Sampai suatu saat ia memutuskan untuk menjadi atlet atletik. Untungnya sang ayah, Rasmus Bawelle, mendukungnya. Asal, anak pertama dari dua bersaudara itu mau berlatih keras.

Pak Rasmus sebenarnya mengarahkan Boy untuk menjadi atlet karate. Sang ayah yang pemegang dua ban hitam sejak kecil telah menempa gadis kelas 2 SMA ini dengan latihan karate yang ketat. Ia mengaku bahwa mental dan kedisiplinan seorang atlet mulai dikenalnya berkat karate. Jadilah Boy penyandang ban hitam, sebelum serius menekuni atletik.

Niatnya menjadi atlet profesional makin meningkat saat menyaksikan Dedeh Irawaty, atlit atletik penyabet emas SEA GAMES 2007. Waktu itu, ia hanya menyaksikan Dedeh melalui layar kaca. “Kak Dedeh adalah idola saya”, ujar gadis penggemar film Titanic ini.

Bagi anak pertama dari dua bersaudara ini, mengidolakan seseorang tidak berhenti sampai mengagumi saja. “Saya harus menjadi seperti dia, atau bahkan melebihi prestasi Kak Dedeh,” tekadnya. Atlet bertubuh jangkung ini berniat mengalahkan rekor lari sang idola saat masih dalam kompetisi junior. Kini rekor larinya 15.06 detik, terpaut tipis dari targetnya, 15.00′.

“Saya bangga bisa berlari bersama atlit idola saya, tapi saya akan lebih bangga jika saya melaju lebih cepat lagi” sambung Boy berapi-api.

Semangat dan tekad yang kuat memang sangat terasa ketika Tempo berbincang dengan Agustina di Stadion Madya, Senayan. Ia selalu optimis saat ditanya mengenai targetnya sebagai seorang atlit. “Saya ingin dapat emas di Olimpiade”, katanya tegas. “Saya yakin saya pasti bisa.”

“Menurutku mental adalah hal yang paling penting”, ujarnya bersemangat. Menurutnya percuma hebat secara fisik tapi mentalnya lemah. “Nanti mudah ditakut-takuti lawan. Saya yang harusnya menakuti lawan”, jelasnya sambil tertawa. Gadis yang tinggal di kamar no 13 ini mengaku hanya takut pada Tuhan.

Hantu dan setan pun dilibas oleh gadis yang dipanggil dengan nama Veronika oleh keluarganya ini. Sejak kecil Boy punya kelebihan dapat melihat hal-hal gaib disekitarnya. Lama-lama ia pun terbiasa. Jadilah ia dianggap pemberani oleh kawan-kawannya. “Malam-malam kamar saya penuh, teman-teman sering beramai-ramai menginap disini karena takut tidur di kamar,” ujarnya sambil tergelak.

Bersama kawan-kawan asramanya pula ia pergi berjalan-jalan setiap sabtu dan minggu. Jadwal pelatihan yang ketat memaksanya untuk latihan setiap hari, kecuali pada akhir pekan. Ia berlatih dua kali sehari. Latihan pertama jam 04.30 sampai jam 07.00. Anak pertama dalam keluarganya ini lalu pergi ke sekolah ke SMU Ragunan sampai sekitar jam 13.30. Sepulang sekolah ia berlatih lagi hingga pukul 17.00. Sisa hari itu dipakainya beristirahat dan mengerjakan pekerjaan rumah.

Tempat liburan favoritnya adalah mol-mol yang ada di sekitar asramanya. Ia bisa menghabiskan waktu seharian untuk berbelanja dan menonton film, seperti layaknya remaja pada usianya. Jangan salah, meski tomboy Boy juga sempat menitikkan air mata saat menyaksikan kisah Aisha dan Fadli dalam film ayat-ayat cinta.

Namun saat gadis remaja lainnya sibuk pacaran, tidak begitu dengan Boy. Dengan malu-malu ia menjelaskan bahwa saat ini ia tidak ingin pacaran. “Prestasi jadi prioritas nomor satu,” tekadnya. Ia ingin berkonsentrasi penuh pada pertandingan dan latihan. “Untuk mendapat emas saya butuh konsentrasi dan fokus”, lanjut penggemar Durian ini.

“Saya ingin membanggakan negara,” tutur penyuka nasi goreng ini. Ia ketagihan dengan perasaan bangga dan terharu saat melihat bendera merah putih terkibar di udara karena kemenangannya. “Semua rasa lelah dan kerja keras terbayarkan sudah.”

Diam-diam penyabet emas di kejuaraan atletik junior Jogjakarta ini ingin jadi tentara. Impiannya, berkalung medali sambil memanggul bedil. Saat diminta memilih, ia tetap berkeras menginginkan keduanya. Sukses di lapangan, juga sukses berkarir sebagai angkatan bersenjata. “Lapangan adalah pacar pertama saya, sedangkan jadi tentara adalah cita-cita saya”, terang gadis dengan berat 52 kg ini mantap.

Nama lengkap: Agustina Bawelle
Nama panggilan: Boy
Tempat lahir: Tahuna, Pulau Sangihe, Sulawesi Utara
Tanggal lahir: 7 Agustus 1991
Agama: Kristen
Nama ayah: Rasmus Bawelle
Nama ibu: Dinje Pudihang
Sekolah: SMA Atlit Ragunan kelas 2

[Famega Syavira]


Pranoto Mongso

February 2012
M T W T F S S
« Dec    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
272829  

sitemeter